Beijing – China secara resmi mendesak penguatan peran negara-negara berkembang, atau yang dikenal sebagai Global South, dalam sistem tata kelola global. Seruan ini disampaikan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, saat meluncurkan kertas putih (white paper) terbaru Beijing yang membahas upaya menciptakan tata kelola global yang lebih adil.
Dalam dokumen tersebut, Wang Yi menekankan bahwa negara-negara emerging masih kurang terwakili di institusi-institusi global seperti PBB. Menurut China, semua negara harus memiliki suara yang setara dalam urusan internasional, dan hal itu berarti memperkuat representasi dari negara-negara berkembang.
China menyebut peran PBB harus diperkuat di tengah dunia yang saat ini dilanda berbagai konflik bersenjata dan tantangan ekonomi serius. Langkah ini memicu pertanyaan apakah Beijing kini secara terbuka mencalonkan diri sebagai pemimpin dari kubu Global South, dan apakah mereka mampu menggalang cukup dukungan untuk memainkan peran tersebut.
Analisis Dampak dan Konteks: Dorongan China ini bukan sekadar wacana. Di tengah rivalitas dengan AS, Beijing aktif membangun aliansi dengan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Jika berhasil, ini bisa menggeser dominasi negara-negara Barat di lembaga multilateral seperti PBB, IMF, atau Bank Dunia. Namun, sejumlah pengamat meragukan komitmen China, karena selama ini Beijing juga kerap dianggap menggunakan institusi global untuk kepentingan geopolitiknya sendiri, seperti yang terlihat dalam sengketa Laut China Selatan.