NEW DELHI - Sebuah startup di India meluncurkan layanan unik bernama CarryMen, yang menyediakan asisten pribadi untuk menemani dan membantu membawakan barang belanjaan di pasar tradisional. Layanan yang baru beroperasi sejak April 2024 ini memicu perdebatan sengit di media sosial.
Berlokasi di Pasar Lajpat Nagar, Delhi, CarryMen menawarkan jasa asisten pria dan wanita dengan tarif mulai dari 79 Rupee (sekitar Rp15.000) untuk 30 menit, atau 149 Rupee (sekitar Rp28.000) per jam. Pengguna bisa menyewa jasa ini maksimal selama empat jam.
Ide ini muncul dari pengalaman para pendirinya, Ritu Kandari Srivastava dan Kanishka Malhotra, yang kesulitan membawa bayi di kereta dorong sambil berbelanja. Mereka melihat banyak ibu dan lansia kewalahan di pasar yang becek dan tidak ramah kursi roda.
"Kami frustrasi karena tidak bisa membantu seorang nenek yang kesulitan membawa tas. Dari situlah kami berpikir, kenapa tidak ada jasa bayaran untuk membantu orang berbelanja?" ujar Ritu kepada BBC.
Pro-Kontra: Antara Solusi dan Eksploitasi
Layanan ini langsung viral dan menuai reaksi beragam. Banyak yang memuji CarryMen sebagai solusi cerdas di tengah tingginya angka pengangguran perkotaan di India yang mencapai lebih dari 5%. Startup ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Namun, tak sedikit yang mengkritik. Para kritikus menyebut layanan ini sebagai puncak dari sikap manja kelas menengah India yang gemar menyuruh orang lain mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Akriti Bhatia, seorang aktivis buruh, menyebut CarryMen tak lebih dari 'kuli' modern yang termarjinalkan dalam ekonomi gig.
"Layanan ini seolah hanya untuk wanita kaya yang baru selesai manikur dan tidak mau kukunya rusak," sindir Akriti. Bahkan, tuduhan 'perbudakan modern' pun mencuat di kolom komentar media sosial India.
Analisis Dampak
Fenomena CarryMen mencerminkan kesenjangan sosial yang tajam di India. Di satu sisi, kelas menengah atas memiliki daya beli dan kebutuhan akan kenyamanan. Di sisi lain, jutaan orang berpendidikan tinggi masih kesulitan mendapat pekerjaan layak. Startup ini menjadi simbol bagaimana kebutuhan praktis bisa berbenturan dengan isu etika ketenagakerjaan. Ke depannya, regulator perlu memastikan layanan seperti ini tidak menciptakan jurang eksploitasi, melainkan menjadi profesi yang dihormati dengan upah dan jaminan sosial yang jelas.