Situasi di Timur Tengah kian memanas setelah kelompok Houthi dari Yaman secara terbuka melancarkan serangan terhadap Israel. Brigade Jenderal Yahya Saree, juru bicara militer Houthi, mengumumkan serangan pertama mereka pada Sabtu lalu, disusul operasi militer kedua pada Minggu menggunakan rudal jelajah dan drone. Houthi menegaskan akan terus menyerang hingga Israel menghentikan agresinya.
Analis khawatir keterlibatan Houthi ini berpotensi membuka front baru yang sangat krusial: ancaman blokade Selat Bab al-Mandeb. Selat sempit ini merupakan salah satu jalur maritim tersibuk di dunia, menjadi pintu gerbang vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, serta jalur utama menuju Terusan Suez. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa sangat parah bagi rantai pasok dan ekonomi global, mengingat miliaran dolar barang melintasinya setiap hari. Pemblokiran rute strategis ini otomatis akan memaksa kapal-kapal untuk menempuh jalur yang lebih panjang dan mahal, otomatis meningkatkan biaya logistik dan harga komoditas secara global.
Meski sebagian pihak melihat aksi Houthi sebagai partisipasi simbolis belaka, yang lain menganggapnya sebagai eskalasi serius. Walaupun didukung Iran sebagai bagian dari 'poros perlawanan' anti-Israel dan AS, Houthi disebut memiliki kemandirian dalam pengambilan keputusan. Namun, terlepas dari tingkat independensinya, serangan dan ancaman Houthi ini dipandang Iran sebagai perkembangan signifikan yang bisa memperluas cakupan konflik di luar perkiraan awal, sebagaimana sudah diperingatkan Iran kepada negara-negara GCC sebelumnya. Kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas, dengan Selat Bab al-Mandeb sebagai salah satu titik panas, kini semakin nyata.