DOOMSDAY CLOCK MERAUNG! BUMI KIAN DEKAT KE JURANG? - Berita Dunia
← Kembali

DOOMSDAY CLOCK MERAUNG! BUMI KIAN DEKAT KE JURANG?

Foto Berita

Para ilmuwan kembali menekan tombol alarm! Jam Kiamat atau Doomsday Clock baru saja disetel pada 85 detik menuju tengah malam untuk tahun 2026, menandai posisi paling berbahaya bagi kemanusiaan sejak tradisi ini dimulai tahun 1947. Ini adalah peringatan paling suram yang pernah disampaikan, mengajak kita semua bertanya: seberapa dekat Bumi dengan kehancuran?

Adalah Bulletin of the Atomic Scientists, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan oleh Albert Einstein, yang mengumumkan penilaian tahunannya ini. Mereka mengingatkan, kerja sama internasional justru menurun drastis di berbagai bidang krusial. Ancaman senjata nuklir jadi sorotan utama. Negara-negara besar seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika Serikat, misalnya, kini menunjukkan gelagat yang makin agresif, saling bermusuhan, dan nasionalistis. Kondisi ini memicu kompetisi kekuatan besar yang berprinsip "winner-takes-all", mengikis pemahaman global yang susah payah dibangun. Konflik-konflik di tahun 2025, seperti perang Rusia-Ukraina, bentrokan India-Pakistan, serta serangan AS dan Israel ke Iran, menjadi bukti nyata dari ketegangan yang kian memanas.

Selain itu, krisis iklim juga disebut sebagai ancaman besar. Respons global dinilai jauh dari cukup, bahkan ada yang merusak. Para ilmuwan menyoroti absennya penekanan pada penghapusan bahan bakar fosil dan pemantauan emisi CO2 dalam tiga KTT iklim PBB terakhir. Kebijakan seperti yang dilakukan Presiden AS Donald Trump di masanya yang "menyatakan perang" terhadap energi terbarukan juga disinggung sebagai kemunduran. Tak berhenti di situ, ancaman dari bioteknologi dan kemunculan kecerdasan buatan (AI) turut menambah daftar panjang risiko bencana yang membayangi.

Presiden dan CEO Bulletin, Alexandra Bell, menegaskan bahwa risiko katastropik terus meningkat, kerja sama menurun, dan waktu kian menipis. Menurutnya, perubahan itu bukan cuma perlu tapi juga mungkin terjadi. Namun, komunitas global harus menuntut tindakan cepat dari para pemimpin mereka.

Peringatan ini tentu bukan sekadar angka di jam. Ini adalah cerminan nyata dari kebijakan dan konflik global yang punya dampak langsung pada kehidupan kita sehari-hari. Potensi kehancuran masif akibat ancaman nuklir tak bisa dianggap remeh. Krisis iklim kini menjelma dalam bencana alam yang makin sering, seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas, yang merusak pertanian, mengganggu pasokan air bersih, dan memicu migrasi penduduk. Sementara itu, ketegangan geopolitik bisa memicu instabilitas ekonomi, kenaikan harga komoditas, dan bahkan konflik yang lebih luas.

Meski berita ini penuh peringatan, ada secercah harapan yang patut dicatat: pertumbuhan rekor energi terbarukan, terutama angin dan surya, pada tahun 2024. Gabungan energi terbarukan dan nuklir bahkan telah melampaui 40% dari total produksi listrik global untuk pertama kalinya. Ini menunjukkan bahwa solusi ada, asalkan ada kemauan politik dan dorongan kolektif dari masyarakat. Publik harus proaktif mendesak pemimpin untuk berinvestasi dalam energi bersih, mendorong diplomasi, dan mengawasi perkembangan teknologi baru agar dimanfaatkan untuk kebaikan, bukan kehancuran bersama.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook