Ribuan warga Greenland turun ke jalanan Nuuk, ibu kota mereka, untuk menyuarakan penolakan keras terhadap rencana Amerika Serikat (AS) yang diinisiasi oleh mantan Presiden Donald Trump. Dengan mengibarkan bendera nasional dan membawa poster-poster protes, massa meneriakkan "Greenland tidak untuk dijual!" sebagai bentuk pembelaan atas pemerintahan mandiri mereka di tengah kekhawatiran akan pengambilalihan AS.
Aksi damai yang melibatkan berbagai kalangan usia ini berpusat di konsulat AS setelah para demonstran berjalan kaki dari pusat kota Nuuk. Bersamaan dengan selesainya pawai pada Sabtu (waktu setempat), kabar mengejutkan datang dari Trump yang kala itu sedang berada di Florida. Ia mengumumkan akan memberlakukan pajak impor sebesar 10 persen mulai Februari untuk barang-barang dari delapan negara Eropa. Langkah ini disebut sebagai pembalasan atas penolakan negara-negara tersebut terhadap rencana AS menguasai pulau Arktik itu.
Sejak lama, Trump memang berpendapat bahwa AS harus memiliki Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark yang strategis dan kaya mineral. Desakannya semakin kuat setelah operasi militer AS yang kontroversial menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro awal bulan ini.
Tillie Martinussen, mantan anggota parlemen Greenland, berharap pemerintahan Trump segera "menghentikan ide gila ini." Ia mengungkapkan kekecewaan atas perubahan sikap AS. "Awalnya, mereka memposisikan diri sebagai teman dan sekutu kami, mengatakan ingin membuat Greenland lebih baik daripada Denmark," ujar Martinussen di tengah gemuruh yel-yel protes. "Dan kini, mereka terang-terangan mengancam kami."
Martinussen menegaskan, perjuangan untuk mempertahankan NATO dan otonomi Greenland jauh lebih penting daripada kekhawatiran tentang dampak tarif. "Ini adalah perjuangan untuk kebebasan," katanya. "Ini demi NATO; ini demi segala sesuatu yang diperjuangkan belahan bumi Barat sejak Perang Dunia Kedua."