Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyuarakan ambisinya untuk mengakuisisi Greenland. Di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Trump menegaskan tak akan menggunakan paksaan, melainkan strategi negosiasi berbasis tarif. Alasan utamanya? Posisi geografis Greenland yang sangat strategis, bak jembatan antara AS, Rusia, dan Tiongkok.
Namun, di balik niatan itu, ada beberapa klaim sejarah Trump yang perlu diluruskan. Ia menyebut AS pernah 'menyelamatkan' Greenland di Perang Dunia II dan 'mengembalikannya' ke Denmark. Faktanya, AS memang sempat membantu pertahanan Greenland dari invasi Jerman, bahkan membangun pangkalan militer di sana. Tapi, perlu dicatat, AS tak pernah memiliki atau menguasai Greenland. Jadi, tidak ada yang bisa 'dikembalikan' seperti yang diklaim Trump.
Sejarah mencatat, Greenland sudah jadi bagian Denmark sejak abad ke-18. Statusnya sebagai distrik otonom di bawah kedaulatan Denmark pun sudah diakui komunitas internasional, bahkan Amerika Serikat sendiri ikut menyetujui perubahan status ini di PBB pada tahun 1954.
Tentu saja, tawaran akuisisi dari Trump ini sebelumnya sudah ditolak mentah-mentah oleh Denmark, yang menegaskan Greenland tidak untuk dijual. Insiden menarik lainnya, dalam pidatonya di Davos, Trump sempat beberapa kali salah menyebut 'Islandia' alih-alih 'Greenland', bahkan menyalahkan Islandia atas anjloknya pasar saham AS kala itu. Padahal, penurunan pasar diduga kuat karena spekulasi seputar wacana akuisisi Greenland yang ia lontarkan.