Jakarta - FIFA bergerak cepat setelah gestur tangan seorang ofisial VAR memicu kontroversi di laga Jerman vs Curacao. Shaun Evans, asisten wasit video asal Australia, kedapatan membuat simbol 'OK' terbalik yang identik dengan gerakan supremasi kulit putih.
Insiden ini terjadi saat sesi perkenalan tim VAR sebelum pertandingan. Alih-alih fokus ke monitor, Evans justru berdiri dan membentuk gestur kontroversial tersebut. Rekaman itu langsung viral dan memicu spekulasi liar di media sosial.
FIFA, yang biasanya menampilkan tim VAR di layar sebagai bagian dari siaran global, kini tengah meminta klarifikasi resmi dari Evans. Organisasi anti-diskriminasi Fare Network dan Kick It Out juga ikut angkat bicara, mendesak FIFA untuk mengambil tindakan tegas. Menariknya, setelah pertandingan tersebut, FIFA mengubah protokol siaran: tim VAR tidak lagi diarahkan menghadap kamera, melainkan langsung bekerja di depan monitor.
Dampak dan Analisis: Gestur ini bukan sekadar iseng. Simbol 'OK' terbalik telah masuk dalam daftar simbol kebencian oleh Anti-Defamation League (ADL) sejak 2019. Meski sering dianggap sebagai lelucon atau 'prank circle game', kelompok sayap kanan global menggunakannya sebagai kode identitas. Langkah FIFA yang langsung mengubah protokol siaran menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Jika terbukti sengaja, karier Evans sebagai wasit profesional bisa terancam, dan ini menjadi peringatan keras bagi seluruh ofisial pertandingan untuk menjaga netralitas dan profesionalisme di ajang sebesar Piala Dunia.