Jurnalis Palestina peraih penghargaan, Bisan Owda, kini bisa bernapas lega. Akun TikTok-nya yang memiliki 1,4 juta pengikut, yang sempat menghilang secara misterius, kini telah kembali aktif.
Kabar pemulihan akun ini diumumkan Owda melalui Al Jazeera pada Kamis (waktu setempat), sehari setelah ia mengungkapkan pembekuan akunnya dari platform berbagi video tersebut. Owda menduga kuat, kembalinya akunnya tak lepas dari sorotan media internasional dan tekanan dari berbagai organisasi non-pemerintah. Meski begitu, ia menambahkan bahwa untuk menemukan akun populer miliknya, kini pengguna harus mengetik nama lengkapnya, bukan lagi mudah ditemukan seperti sebelumnya. Tak hanya itu, Owda juga menerima pesan dari TikTok yang menyatakan banyak unggahan videonya kini "tidak memenuhi syarat untuk direkomendasikan", yang berarti jangkauannya bisa terbatas.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena Owda dikenal luas berkat laporan harian langsung dari Gaza yang porak-poranda akibat perang. Video-video "diary"-nya yang dimulai dengan sapaan khas, "Ini Bisan dari Gaza – dan saya masih hidup," selama perang genosida Israel di wilayah tersebut, telah memberinya penghargaan jurnalistik bergengsi seperti Emmy, Peabody, dan Edward R Murrow.
Pemblokiran akun Owda pada Rabu lalu memicu banyak pertanyaan, terutama mengingat pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sempat berharap pembelian TikTok "berjalan lancar, karena bisa berdampak besar." Kejadian ini juga datang di tengah kondisi pelik bagi jurnalis di Gaza, di mana setidaknya 207 jurnalis dan pekerja media Palestina telah tewas sejak Oktober 2023, sebagian besar oleh pasukan Israel, menurut Committee to Protect Journalists. Pengadilan tinggi Israel pun masih menunda keputusan tentang izin jurnalis asing untuk meliput Gaza secara independen.
Menanggapi insiden ini, juru bicara TikTok kepada media The New Arab menjelaskan, akun Owda sempat "dibatasi sementara" pada September karena kekhawatiran adanya "risiko peniruan identitas". Setelah tinjauan lebih lanjut, akun tersebut kini dipulihkan dan beroperasi normal. Namun, penjelasan ini kerap dinilai tak cukup menjawab keraguan publik terkait dugaan sensor konten, terutama yang berkaitan dengan isu Palestina di platform media sosial.
Kasus ini menyoroti tantangan besar kebebasan pers dan arus informasi di era digital, khususnya dari zona konflik. Akun-akun seperti milik Bisan Owda sangat vital sebagai jendela langsung bagi dunia untuk memahami realitas di lapangan. Pembatasan atau pemblokiran akun, bahkan dengan alasan teknis, dapat memiliki dampak signifikan terhadap narasi yang sampai ke publik global, serta memicu kekhawatiran tentang potensi bias dan sensor algoritma platform media sosial.