Jakarta - Ketegangan di Tanduk Afrika kembali memanas. Eritrea resmi memutuskan seluruh hubungan diplomatik dengan Ethiopia, sebuah langkah eskalatif yang menandai pecahnya konflik terbuka antara dua negara bertetangga tersebut.
Keputusan ini diambil sebagai respons atas tindakan Addis Ababa yang sebelumnya menutup kedutaan besarnya di Asmara dan mengusir 10 diplomat Eritrea. Kementerian Luar Negeri Eritrea menyatakan bahwa mereka tidak punya pilihan selain membalas tindakan tersebut secara setara.
Konflik ini bukan sekadar adu mulut diplomatik. Akar masalahnya terletak pada sengketa wilayah dan tuduhan saling intervensi. Ethiopia menuduh Eritrea mendukung kelompok bersenjata oposisi, termasuk aliansi pemberontak yang dipimpin Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Sebaliknya, Eritrea menuduh Ethiopia melanggar wilayah pesisir mereka dan mempersenjatai kelompok anti-pemerintah.
Situasi semakin rumit karena pertempuran baru-baru ini di Ethiopia utara menjadi yang terburuk sejak perang saudara 2020-2022 yang menewaskan ratusan ribu orang. Analis memperingatkan bahwa dampak dari konflik ini bisa meluas ke negara tetangga, berpotensi memicu ketidakstabilan di kawasan yang sudah dilanda berbagai konflik berkepanjangan.
Ketegangan ini juga menyeret aktor regional lain. Ethiopia menuduh Mesir dan Sudan ikut mendukung kekuatan pemberontak Tigray. Hubungan Ethiopia-Mesir sendiri sudah lama memanas akibat proyek Bendungan Renaissance (GERD) di Sungai Nil yang dianggap Kairo sebagai ancaman keamanan air mereka. Terbaru, kedua negara saling mengusir diplomat.
Bagi masyarakat awam, eskalasi ini berarti ancaman nyata terhadap perdamaian regional. Ketika dua negara besar di Tanduk Afrika saling berhadapan, dampaknya bisa terasa pada stabilitas ekonomi, arus pengungsi, dan keamanan jalur perdagangan di Laut Merah.