Konflik bersenjata yang berkepanjangan di Lebanon tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga memberikan tekanan psikologis berat bagi kelompok rentan, terutama penyandang neurodivergen seperti autisme dan ADHD. Para ahli memperingatkan bahwa kebutuhan mendasar mereka akan rutinitas dan lingkungan yang stabil kini terganggu oleh situasi perang yang penuh ketidakpastian.
Kisah Lena Kouyoumjian menjadi salah satu contoh nyata dampak krisis ini. Sejak suaminya meninggal akibat COVID-19 pada 2020, ia harus merawat putrinya, Vana (20), yang menyandang autisme non-verbal. Bagi Vana, perubahan mendadak, suara keras, dan rasa takut dapat memicu kecemasan akut. Eskalasi serangan Israel ke Lebanon selatan sejak Maret lalu membuat Lena khawatir kondisi putrinya memburuk.
Selain ancaman bom, krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat biaya transportasi ke pusat terapi menjadi tidak terjangkau. Vana terpaksa jarang menghadiri kelas di Autism Awareness Association (AAA), lembaga nirlaba yang selama enam tahun menjadi sekolah alternatifnya. Situasi ini diperparah dengan meningkatnya biaya hidup, membuat akses terhadap dukungan profesional semakin sulit.
Dampak bagi masyarakat luas, perang menciptakan krisis kesehatan mental yang tersembunyi. Kelompok neurodivergen seringkali terpinggirkan dalam skema bantuan darurat karena stigma sosial dan kurangnya pemahaman. Tanpa dukungan rutin, risiko gangguan emosional dan regresi perkembangan bagi penyandang autisme meningkat drastis, sementara orang tua mereka menghadapi beban pengasuhan ganda di tengah ancaman keselamatan jiwa.