Johannesburg, Al Jazeera — Ketegangan di Afrika Selatan kembali memanas. Gelombang kekerasan anti-imigran memaksa warga asing meninggalkan rumah mereka dalam ketakutan. Pemerintah Mozambik mengonfirmasi bahwa lima warganya tewas dalam insiden ini, sementara ratusan lainnya dilaporkan melarikan diri ke perbatasan.
Keluarga-keluarga yang terusir kini mengungsi di pusat-pusat komunitas. Situasi semakin genting ketika Ghana dan Nigeria menyatakan akan mengevakuasi warga negara mereka dari lokasi konflik. Aksi ini memicu kekhawatiran akan krisis kemanusiaan skala besar di kawasan selatan Benua Afrika.
Analisis: Kekerasan ini bukan sekadar ledakan amarah sesaat, melainkan akumulasi dari masalah sosial-ekonomi yang mendalam. Tingkat pengangguran tinggi yang mencapai 32% menciptakan persaingan sengit untuk mendapatkan pekerjaan dan sumber daya. Imigran sering dijadikan kambing hitam atas minimnya lapangan kerja. Dampaknya, hubungan diplomatik dengan negara tetangga seperti Mozambik dan Zimbabwe bisa merenggang, memicu krisis regional yang lebih luas. Situasi ini mengingatkan kita pada kerusuhan xenofobia tahun 2008 yang menewaskan puluhan orang.