Gembong narkoba paling dicari di Meksiko, Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho”, pemimpin kartel Jalisco New Generation (JNGC), dilaporkan tewas dalam operasi berisiko tinggi oleh pasukan keamanan Meksiko. Penumpasan El Mencho ini menjadi pukulan paling signifikan bagi kejahatan terorganisir di Meksiko dalam hampir satu dekade terakhir, setara dengan penangkapan Joaquin “El Chapo” Guzman.
Operasi maut ini terjadi pada Minggu dini hari di Tapalpa, sebuah kota pegunungan terpencil di negara bagian Jalisco, Meksiko barat. Berawal dari informasi intelijen terkait salah satu rekan dekat El Mencho, pasukan keamanan Meksiko, yang didukung satuan tugas intelijen militer AS, mulai memantau persembunyian El Mencho sejak 20 Februari. Puncaknya, pada 22 Februari, pasukan khusus didukung Garda Nasional, pesawat, dan helikopter melancarkan penggerebekan.
Baku tembak sengit tak terhindarkan. Pasukan militer yang maju disambut tembakan dari anggota kartel, memicu pertempuran yang berlangsung berjam-jam. El Mencho dan beberapa anggota lingkaran dalamnya berusaha kabur ke kompleks kabin di hutan terdekat, namun kembali terlibat baku tembak. Akhirnya, El Mencho ditemukan terluka parah bersama dua pengawalnya. Ia sempat dievakuasi menggunakan helikopter ke fasilitas medis, namun nyawanya tak tertolong dalam perjalanan udara.
El Mencho, 59 tahun, diyakini mantan polisi yang berasal dari Michoacan. Ia membangun kerajaan kriminalnya selama lebih dari 30 tahun, dan mendirikan JNGC sekitar tahun 2009. Kartel ini dengan cepat tumbuh menjadi salah satu yang paling kuat dan brutal di Meksiko, dikenal gemar menggunakan taktik militer, termasuk drone bersenjata dan alat peledak improvisasi, serta menyerang langsung pasukan keamanan. JNGC bertanggung jawab atas penyelundupan kokain, metamfetamin, dan fentanil dalam jumlah besar ke Amerika Serikat, serta penyelundupan migran.
Kematian El Mencho langsung memicu reaksi keras dari JNGC. Kementerian Pertahanan Meksiko mengidentifikasi “El Tuli”, orang kepercayaan sekaligus operator finansial utama kartel, sebagai otak di balik serangkaian serangan balasan terkoordinasi. Serangan tersebut meliputi blokade jalan, aksi pembakaran, dan penyerangan fasilitas pemerintah di Jalisco, bahkan menawarkan hadiah 20.000 peso (sekitar Rp17 juta) bagi siapa saja yang berhasil membunuh anggota militer. Kejadian ini tidak hanya menyoroti kekuatan kartel dalam membalas, tetapi juga membuka kemungkinan perebutan kekuasaan di internal JNGC atau perang antar kartel yang bisa memperparah kekerasan dan ketidakstabilan di Meksiko.