Washington, DC – Amerika Serikat dan Iran mengumumkan akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Jumat pekan ini untuk mengakhiri perang yang melibatkan Israel. Kesepakatan awal ini membuka peluang pencabutan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik panas konflik.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa kapal-kapal sudah mulai bergerak melalui Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, Trump menyebut kapal-kapal yang sarat muatan minyak kini melintasi jalur selatan yang aman di perairan Oman. Namun, sebuah arahan militer AS menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran masih berlaku hingga seremoni penandatanganan resmi pada Jumat. Peringatan keras dikeluarkan agar tidak ada kapal yang mencoba melintas sebelum mendapat izin eksplisit.
Meski ada optimisme, proses pemulihan jalur pelayaran diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Operasi pembersihan ranjau laut diperkirakan berlangsung 40 hingga 50 hari sebelum perusahaan asuransi dan pelayaran merasa aman. Sekitar 500 kapal masih mengantre untuk melintas, dengan 20.000 awak kapal terdampar. Trump juga berencana membahas upaya pembersihan ranjau dalam KTT G7 di Prancis.
Analisis Dampak: Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi pasar minyak global yang sempat volatil. Namun, masalah pelik seperti program nuklir Iran, pencairan aset Iran, dan masa depan administrasi Selat Hormuz baru akan dibahas dalam negosiasi 60 hari ke depan. Para ahli memperingatkan bahwa konflik justru memperkuat posisi tawar Iran atas Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang bisa sewaktu-waktu ditutup atau dikenakan biaya lintas.