Gelombang demonstrasi besar-besaran kembali mengguncang Venezuela. Ribuan warga turun ke jalan di berbagai kota untuk menuntut pemilu bebas dan perubahan politik, menandai aksi protes oposisi nasional pertama dalam hampir dua tahun terakhir.
Unjuk rasa ini dipicu oleh situasi politik yang memanas setelah mantan Presiden Nicolas Maduro ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat pada Januari lalu. Meski Presiden AS Donald Trump dan Presiden Interim Delcy Rodriguez menyatakan pemilu akan digelar, hingga kini belum ada tanggal pasti untuk menentukan suksesor Maduro.
Pemimpin oposisi dan peraih Nobel Perdamaian, Maria Corina Machado, menegaskan bahwa pemilu harus terlaksana paling lambat Juli 2027. Melalui gerakan Vente Venezuela, ia mengorganisir protes di ibu kota Caracas serta kota-kota lain seperti Valencia, Maracay, San Cristobal, dan Maracaibo.
Antusiasme warga terlihat jelas. Seorang mahasiswa kosmetologi berusia 18 tahun, Leosmary Hernandez, mengaku bahagia melihat perubahan mulai tampak. "Saya sudah melalui banyak kesulitan karena dolar dan sulitnya belajar. Saya berharap banyak pada negara ini dan pemimpin berikutnya," ujarnya di Maracay.
Sejak 3 Januari, Venezuela dipimpin oleh Presiden Interim Delcy Rodriguez dari Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV). Pemerintahan Rodriguez mendapat dukungan Gedung Putih, meski partai berkuasa tersebut sering dituduh melakukan pelanggaran HAM terhadap lawan politik.
Menariknya, aksi protes kali ini berjalan relatif kondusif. Aparat keamanan minim kehadiran di lokasi demonstrasi, dan massa membubarkan diri sebelum gelap. Partai berkuasa sendiri menggelar pawai tandingan di Plaza Venezuela untuk memperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara, yang dihadiri Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello.