Kabar penting datang dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC): Kepala Jaksa Karim Khan kini bisa bernapas lega. Setelah diselimuti tuduhan pelanggaran seksual, sebuah panel tiga hakim ICC menyatakan dirinya bersih dari segala tuduhan.
Panel hakim itu, yang menyerahkan laporan rahasia pada 9 Maret lalu, dengan suara bulat menyimpulkan bahwa temuan investigasi internal PBB (OIOS) “tidak menemukan adanya pelanggaran atau penyalahgunaan jabatan”. Investigasi OIOS sendiri dimulai pada November tahun lalu, menyusul tuduhan dari salah satu staf Khan dan kemudian diperkuat oleh wanita kedua yang juga mantan stafnya.
Khan, yang secara sukarela mengambil cuti dari jabatannya di ICC sejak Mei lalu sambil menunggu hasil penyelidikan, telah membantah semua tuduhan sejak awal. Kini, dengan namanya yang bersih, ia siap untuk kembali memimpin kantornya.
Pembebasan ini bukan sekadar berita biasa. Momen ini krusial mengingat kantor Khan sedang mengusut kasus-kasus kejahatan perang yang sangat sensitif dan berprofil tinggi. Ia baru saja mengajukan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang di Gaza, serta Presiden Rusia Vladimir Putin terkait dugaan deportasi anak-anak Ukraina.
Dengan namanya yang kini bersih, kredibilitas Khan dan ICC dalam menangani kasus-kasus global yang sarat intrik politik ini diperkirakan akan semakin kuat. Pembebasan dari skandal pribadi ini membuka jalan bagi Khan untuk kembali memimpin dengan fokus penuh tanpa bayang-bayang tuduhan, yang bisa jadi sangat berpengaruh pada arah peradilan internasional ke depan dan dinamika geopolitik global.