Pasar keuangan Amerika Serikat kembali mengalami gejolak hebat. Harga minyak dunia naik-turun tak menentu akibat meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak ke level tertinggi dalam 24 tahun terakhir. Kekhawatiran investor terhadap dampak harga minyak tinggi terhadap inflasi dan suku bunga menjadi pemicu utama.
Badan Energi Internasional (IEA) bersama negara-negara G7 telah menyepakati pelepasan cadangan minyak strategis sebanyak 100 juta barel untuk menenangkan pasar. IEA juga menyatakan siap melepas cadangan tambahan jika diperlukan, dengan prioritas pada diesel yang pasokannya semakin ketat.
Meski demikian, situasi di lapangan masih memanas. UK Maritime Trade Operations melaporkan sembilan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz sepanjang bulan ini. Insiden terbaru melibatkan kapal berbendera Panama yang terkena proyektil misterius, melukai 12 awak kapal. Amerika Serikat mengklaim masih mengendalikan selat tersebut dan aliran minyak mendekati normal.
Menurut firma intelijen maritim Kpler, ekspor minyak dari Telukādi luar Iranāsudah pulih hingga lebih dari 81 persen dari level sebelum perang. Namun, pemulihan ini dibarengi dengan naiknya biaya pengiriman, asuransi, dan keamanan yang membebani perusahaan pelayaran.
Dampak bagi Masyarakat: Ketidakstabilan harga minyak global berpotensi memicu kenaikan harga BBM dan barang kebutuhan pokok di Indonesia. Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan inflasi dan menjaga stabilitas subsidi energi agar daya beli masyarakat tidak tergerus.