Sepuluh tahun sudah Muhammad Ali, sang legenda tinju dunia, meninggalkan kita. Bukan cuma petarung di atas ring, Ali dikenang sebagai figur yang berani menentang arus. Di tengah masa segregasi rasial di Amerika Serikat bagian Selatan, ia dengan tegas menolak wajib militer perang Vietnam. Penolakan itu bukan tanpa risiko; ia kehilangan gelar juara dunianya dan sempat dilarang bertinju.
Namun, sikapnya justru mengangkatnya menjadi simbol global perlawanan terhadap rasisme dan ketidakadilan. Ali bukan hanya 'The Greatest' di ring tinju, tapi juga seorang Muslim taat yang vokal memperjuangkan hak-hak sipil. Warisannya mengajarkan bahwa seorang atlet bisa punya pengaruh jauh di luar olahraga. Hingga kini, sosoknya terus menginspirasi para aktivis dan atlet dunia untuk berani bersuara melawan penindasan.