LEBANON MEMANAS! PENGUNGSI PALESTINA TERJEPIT, RUMAH TAK PASTI? - Berita Dunia
← Kembali

LEBANON MEMANAS! PENGUNGSI PALESTINA TERJEPIT, RUMAH TAK PASTI?

Foto Berita

Lebanon kembali memanas, dan kali ini, dampaknya begitu pahit bagi ribuan pengungsi Palestina yang sudah puluhan tahun mencari rumah. Eskalasi konflik antara Israel dan Hezbollah sejak awal Maret 2024 tak hanya menghancurkan harapan, tapi juga memaksa ratusan ribu orang mengungsi, memperparah trauma generasi yang tak kunjung usai. Mereka terjepit di antara perang dan janji perdamaian yang selalu dilanggar.

Salah satu kisah pilu datang dari Manal Matar, yang keluarganya sudah mengungsi sejak Nakba 1948 dari Akka, Palestina. Tinggal di kamp Rashidieh, dekat Tyre, Manal dan keluarganya kembali harus merasakan neraka perang. "Bom berjatuhan di mana-mana," kenangnya tentang serangan Israel pada 2 Maret lalu. Mereka pun terpaksa mengungsi lagi, menempuh perjalanan mengerikan lebih dari sehari ke kamp Beddawi di Tripoli, Lebanon utara, tanpa kepastian kapan bisa kembali ke "rumah" yang bahkan bukan tanah air mereka sendiri.

Ketegangan memuncak setelah Hezbollah menyerang Israel untuk pertama kalinya dalam setahun pada 2 Maret, mengklaim sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei oleh Israel dua hari sebelumnya. Israel merespons dengan intensifikasi serangan di Lebanon. Meski gencatan senjata rapuh telah disepakati pada 27 November sebelumnya, PBB dan pemerintah Lebanon justru mencatat lebih dari 15.000 pelanggaran oleh Israel sejak saat itu, yang merenggut nyawa ratusan orang.

Gelombang evakuasi massal pun tak terhindarkan. Israel memerintahkan penduduk meninggalkan lebih dari 14 persen wilayah Lebanon, termasuk Lebanon selatan dan Dahiyeh di pinggiran selatan Beirut. Imbasnya, lebih dari 800.000 orang di Lebanon terpaksa mengungsi. Kamp-kamp pengungsi Palestina di Tyre seperti Rashidieh, Burj Shemali, dan el-Buss, serta kamp Burj al-Barajneh dan Shatila di Beirut, kini menjadi sasaran empuk serangan dan ketidakpastian.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan melontarkan ancaman keras: para pengungsi tidak akan bisa pulang sampai Israel utara dirasa aman. Ancaman ini menjadi pukulan telak bagi sekitar 200.000 pengungsi Palestina di Lebanon yang sudah hidup dalam bayang-bayang status "sementara" sejak 1948 dan 1967. Dengan hukum ketenagakerjaan yang membatasi akses pekerjaan, kerentanan mereka berlipat ganda, dan kini, ancaman tak bisa kembali menambah beban trauma yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Situasi ini bukan hanya krisis kemanusiaan, melainkan juga krisis eksistensi. Pengungsi Palestina, yang sudah rentan secara sosial dan ekonomi, kini terjebak dalam pusaran konflik regional yang lebih besar. Mereka hidup dalam ketidakpastian, jauh dari tanah asal mereka, dan kini terancam kehilangan tempat berlindung sementara mereka di Lebanon. Harapan untuk hidup damai dan bermartabat seolah hanya mimpi di tengah riuhnya ledakan dan pengungsian.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook