Lima, Peru – Keiko Fujimori kembali mencalonkan diri sebagai presiden Peru untuk keempat kalinya. Dalam setiap pemilu, ia selalu menjadi momok politik yang sulit dikalahkan, namun belum pernah sekalipun ia berhasil duduk di kursi presiden. Kini, di hari pemungutan suara putaran kedua, banyak mata tertuju padanya: akankah ia akhirnya menang, atau justru kembali menuai kekalahan?
Perjalanan politik Keiko dimulai sejak usia muda. Pada 1994, saat usianya baru 19 tahun, ayahnya yang saat itu menjabat presiden, Alberto Fujimori, memintanya menjadi ibu negara pengganti setelah ibunya dituduh difitnah dan dianiaya oleh rezim ayahnya sendiri. Sejak saat itu, Keiko terus menjadi pusat perhatian publik.
Kini, di usia 48 tahun, ia memimpin partai terkuat di Peru, Fuerza Popular. Ia berhasil menempatkan sekutu-sekutunya di posisi strategis, mulai dari jaksa agung hingga ombudsman. Namun, popularitasnya justru menjadi pisau bermata dua. Banyak warga Peru menganggapnya sebagai representasi dari warisan otoriter ayahnya yang kontroversial.
“Saya pikir ayahnya melakukan beberapa hal baik, tapi secara keseluruhan buruk bagi negara. Saya hampir ingin memilihnya kali ini agar dia berhenti mencoba,” ujar Eduardo Salazar, seorang pekerja rumah sakit di Lima, mewakili suara skeptis banyak pemilih.
Pada putaran pertama 12 April lalu, Keiko tampil lebih baik dari perkiraan. Namun, lawannya dari kubu kiri, Roberto Sanchez, berhasil mengejar ketertinggalan setelah melunakkan platform politiknya di pekan-pekan terakhir kampanye. Hasil jajak pendapat Ipsos menunjukkan keduanya kini bersaing ketat.
Keiko juga menghadapi tantangan lain: ia kesulitan menjangkau pemilih di daerah pedesaan dan komunitas adat. Berbeda dengan ayahnya yang berasal dari kalangan imigran Jepang kelas pekerja, Keiko tumbuh dalam kemewahan, sekolah di Amerika Serikat, dan meraih gelar bisnis. Hal ini membuatnya terkesan elitis dan jauh dari rakyat kecil.
Analis politik menilai bahwa meskipun mesin partainya kuat, elektabilitas Keiko justru sering terjegal oleh bayang-bayang skandal korupsi dan pelanggaran HAM yang membelit keluarganya. Publik masih ingat bagaimana ibunya dituduh difitnah oleh rezim ayahnya sendiri, sebuah luka politik yang belum sembuh total.