Hakeem Jeffries, politisi 56 tahun dari New York, kini berada di ambang sejarah sebagai Ketua DPR AS kulit hitam pertama setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilu sela. Namun, posisinya tidak sepenuhnya aman. Sejumlah kelompok progresif dalam partainya justru meragukan kepemimpinan pria yang dikenal berhati-hati dan lama mendukung Israel ini.
Sebuah petisi di Change.org yang menyerukan agar legislator memilih ketua lain telah mengumpulkan lebih dari 980.000 tanda tangan hingga Sabtu pagi. Beberapa anggota DPR baru dari kubu progresif juga belum menyatakan dukungan. Petisi itu menegaskan, "Kami percaya Ketua DPR harus mewakili pemilih Demokrat, bukan hanya elite partai."
Jeffries, yang telah lama membangun hubungan di internal partai, kini terjepit di tengah pertarungan ideologis. Sayap progresif mendorong pendekatan yang lebih konfrontatif terhadap Donald Trump dan ingin meninggalkan beberapa kebijakan lama Partai Demokrat. Di sisi lain, pengalaman hidup Jeffries—tumbuh di Brooklyn saat era krisis kokain, menjadi pengacara korporat, lalu masuk politik—membentuk pandangannya yang lebih moderat. Ia pernah menjadi salah satu manajer impeachment Trump dan berperan dalam reformasi hukum pidana bipartisan.
Dampaknya bagi masyarakat AS: jika Jeffries gagal mengamankan kursi ketua, Partai Demokrat berisiko terpecah tepat saat mereka perlu bersatu menghadapi Trump di sisa masa jabatannya. Ketidakpastian ini juga bisa memperlambat agenda legislatif yang pro-rakyat, seperti reformasi kesehatan dan keadilan sosial, karena fokus internal partai teralih pada perebutan kekuasaan.