IRAN JUAL KESEPAKATAN DENGAN AS SEBAGAI KEMENANGAN - Berita Dunia
← Kembali

IRAN JUAL KESEPAKATAN DENGAN AS SEBAGAI KEMENANGAN

Foto Berita

TEHERAN, KOMPAS.TV — Pemerintah Iran tengah berupaya keras menjual nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat bukan sebagai sebuah kekalahan atau mundurnya posisi mereka, melainkan sebagai hasil dari perlawanan dan kemenangan. Manuver politik ini dilakukan di tengah tekanan ekonomi yang berat dan luka perang yang baru saja dialami negara tersebut.

Pimpinan tertinggi Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Presiden Masoud Pezeshkian, kompak menyebut kesepakatan ini sebagai langkah maju menuju kemenangan akhir. Qalibaf, yang dikenal sebagai figur garis keras dan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), memberikan dukungan publiknya. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kesepakatan tersebut mendapat restu dari pusat kekuasaan tertinggi di Iran, bahkan dari kalangan yang selama ini paling vokal menentang negosiasi dengan Washington.

Argumentasi utama Teheran adalah bahwa AS dan Israel gagal mencapai target utama mereka. Iran tidak menyerah, program nuklirnya tidak dihancurkan lewat serangan militer, dan hubungan mereka dengan kelompok seperti Hizbullah di Lebanon tidak terputus. Justru, Iran masih duduk di meja perundingan dengan sanksi yang mulai dibahas pencabutannya.

Analisis Dampak dan Informasi Penting: Namun, narasi kemenangan ini tidak sepenuhnya mulus. Kritik keras justru datang dari dalam negeri sendiri. Seorang anggota parlemen garis keras bahkan menyebut draf kesepakatan itu ibarat dokumen yang akan mengubah Iran menjadi 'koloni Amerika'. Tuduhan ini sangat serius karena menyoal kepatuhan terhadap arahan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, khususnya soal pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kritik dari internal ini menunjukkan adanya perpecahan di kalangan elite penguasa. Sementara itu, suara-suara keras dari media dan kelompok pro-pemerintah yang selama berbulan-bulan mengecam AS kini mulai mereda. Hal ini mengindikasikan bahwa keputusan untuk melanjutkan kesepakatan telah mendapat otorisasi dari level tertinggi negara, mungkin karena pusat kekuasaan menilai biaya untuk menolak kesepakatan jauh lebih besar daripada menerimanya. Situasi ini menempatkan rakyat Iran di tengah tarik-menarik antara narasi kemenangan rezim dan realitas tekanan ekonomi yang masih membelenggu kehidupan sehari-hari.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook