Kala perang di Ukraina memasuki tahun kelima, pandangan elit politik Rusia semakin kokoh: konflik besar yang dimulai Februari 2022 itu bukanlah blunder fatal, melainkan sebuah 'taruhan mahal yang perlu dan pada akhirnya berhasil'. Narasi ini sangat kontras dengan persepsi Barat yang kerap menyebutnya sebagai manuver imperialistik.
Bagi Moskow, keputusan ini adalah langkah krusial untuk menarik garis merah tegas terhadap ekspansi NATO yang dianggap mengancam keamanan mereka. Bukan hasrat untuk merebut setengah Eropa, melainkan upaya untuk mencegah isolasi dan pembatasan pengaruh Rusia. Menariknya, konflik ini juga dinilai menguntungkan elit keamanan internal Rusia, memberi mereka kesempatan menyingkirkan oposisi liberal pro-Barat yang dianggap mengancam hegemoni politik.
Pemicu langsung keputusan Putin pun terkuak. Antara 2019-2021, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sempat berupaya mendekat ke Rusia, bahkan nyaris mencapai gencatan senjata di Donbas. Namun, ia kemudian menghadapi tekanan kuat dari elit keamanan internal Ukraina dan lobi-lobi Barat yang meyakinkannya bahwa Rusia bisa dikalahkan secara militer. Perubahan sikap drastis Zelenskyy pada Januari 2021, dari 'merpati' menjadi 'elang' yang menargetkan sekutu Putin dan mendorong keanggotaan NATO, bertepatan dengan pelantikan Presiden Joe Biden. Peristiwa ini kemudian disusul pengerahan pasukan Rusia ke perbatasan Ukraina pada Maret 2021, yang kian memanaskan tensi hingga pecahnya konflik besar.