Bilioner pendiri raksasa ritel L Brands, Leslie Wexner, tak bisa lagi menghindar dari sorotan. Baru-baru ini, ia harus menghadapi cecaran pertanyaan dari anggota parlemen Amerika Serikat, mengorek tuntas bagaimana Jeffrey Epstein, terpidana kejahatan seks, bisa membangun kekayaan dan pengaruhnya yang luar biasa. Berkas dokumen terbaru dari Departemen Kehakiman AS kembali membuka tabir gelap, menyingkap jaring-jaring hubungan Epstein dengan sejumlah nama elite, termasuk peran penting Wexner dalam menopang kiprahnya.
Nama Wexner, sosok di balik merek-merek ternama seperti Victoria's Secret dan Bath & Body Works, menjadi fokus utama penyelidikan setelah namanya muncul berulang kali dalam komunikasi dan dokumen keuangan. Berkas-berkas terbaru, yang dirilis pada 30 Januari 2026, merupakan bagian dari materi investigasi federal terhadap Epstein. Perlu diingat, Epstein pernah mengaku bersalah pada 2008 atas perekrutan anak di bawah umur untuk prostitusi, lalu didakwa pada 2019 atas perdagangan seks anak, sebelum akhirnya meninggal karena bunuh diri dalam tahanan federal.
Meskipun Wexner berkilah bahwa ia "naif, bodoh, dan mudah ditipu" oleh Epstein—bahkan mengklaim dirinya adalah korban penipuan—para penegak hukum menduga perannya jauh lebih sentral. Penyelidikan ini bertujuan mengungkap sejauh mana Epstein memanfaatkan kekayaan dan jaringan Wexner untuk membangun "akses ke elite global," termasuk mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Barak sendiri diketahui pernah menerima dana dari Wexner Foundation, dan kemudian dikabarkan bermitra dengan Epstein.
Dokumen-dokumen baru ini membuka mata kita pada betapa dalamnya Epstein menancapkan akarnya di dunia keuangan dan filantropi Wexner. Ceritanya bermula dari pertemuan mereka di pertengahan 1980-an. Epstein, yang kala itu seorang dropout kuliah dengan rekam jejak akademik yang dipertanyakan, secara mengejutkan pada 1991 diberikan "kuasa penuh" oleh Wexner. Kewenangan luar biasa ini memberi Epstein keleluasaan untuk menandatangani cek, merekrut staf, meminjam uang, hingga membeli atau menjual properti atas nama Wexner.
Salah satu transaksi paling mencolok adalah formalisasi penguasaan rumah mewah Wexner di Manhattan, tepatnya di 9 East 71st Street. Properti ini beralih ke tangan Epstein melalui skema transaksi yang melibatkan nota janji senilai $10 juta. Tak lama, rumah itu menjadi markas utama Epstein di New York, sekaligus simbol nyata dari status dan pengaruhnya yang terus melejit. Hubungan ini terbukti sangat krusial, mengubah Epstein dari seorang manajer keuangan biasa menjadi sosok yang memiliki kekayaan dan jaringan elite luar biasa.
Kasus Jeffrey Epstein, yang terus bergulir dan membuka lembaran baru, menjadi pengingat pahit. Bagaimana tidak, jaringan kekuasaan dan kekayaan ternyata bisa melindungi, bahkan memfasilitasi, kejahatan keji. Keterlibatan nama-nama besar seperti Wexner dan Ehud Barak bukan cuma memperpanjang bayang-bayang skandal, tapi juga memicu pertanyaan besar tentang akuntabilitas para elite. Ini menyoroti urgensi transparansi dan pengawasan ketat terhadap lingkaran kekuasaan, agar keadilan bagi para korban dapat terpenuhi dan praktik serupa tidak terulang di masa depan. Masyarakat berhak tahu, bagaimana seorang kriminal seperti Epstein bisa beroperasi begitu leluasa dan mendapatkan legitimasi dari orang-orang paling berpengaruh di dunia.