Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, menargetkan fasilitas uranium vital, pabrik baja, dan kompleks air berat. Aksi ini dikonfirmasi militer Israel sebagai ālangkah eskalatifā di tengah upaya diplomatik regional meredakan konflik AS-Israel di Iran. Serangan ini memicu respons keras dari Tehran yang berjanji akan membalas.
Jumat lalu, yang menandai hari ke-28 konflik, Angkatan Udara Israel menghantam fasilitas ekstraksi bahan baku uranium di Yazd, Iran tengah. Militer Israel menyebutnya āfasilitas unikā dalam infrastruktur nuklir Iran. Organisasi Energi Atom Iran membenarkan serangan itu, namun mengklaim tidak ada korban jiwa atau kebocoran radiasi. Gelombang serangan ini juga menyasar Kompleks Air Berat Khondab, dua pabrik baja utama (Khuzestan di barat daya dan Mobarakeh di Isfahan), yang menyebabkan kerusakan pada gardu listrik, jalur produksi baja paduan, dan gudang. Area lain seperti Tehran, Kashan, dan Ahwaz juga tak luput dari serangan, bahkan menyebabkan 18 orang tewas di Qom.
Sejak perang AS-Israel di Iran dimulai pada 28 Februari, lebih dari 1.900 orang tewas. Pejabat Iran mengklaim setidaknya 120 museum dan situs bersejarah di seluruh negeri telah rusak akibat serangan ini. Negar Mortazavi dari Center for International Policy menyoroti bahwa target serangan yang meluas ke infrastruktur sipil seperti air, listrik, gas, warisan budaya, sekolah, dan rumah sakit, membuat warga Iran yang sebelumnya kritis terhadap pemerintah mereka sendiri kini melihat konflik ini sebagai serangan terhadap rakyat Iran secara keseluruhan, bukan hanya kepemimpinan mereka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bersumpah akan āmeminta pertanggungjawaban beratā atas serangan infrastruktur penting tersebut. Senada, Komandan Dirgantara IRGC Seyed Majid Moosavi memperingatkan bahwa konflik memasuki babak baru, menegaskan āpersamaan tidak lagi sebatas mata ganti mata.ā Ia bahkan mendesak karyawan perusahaan industri yang terafiliasi AS dan Israel di seluruh wilayah untuk segera mengosongkan tempat kerja mereka. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan pihaknya akan āmengintensifkanā kampanye dan memperluas target, menuduh Tehran sengaja menargetkan warga sipil Israel.
Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan, bahkan Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menunda serangan terencana pada infrastruktur energi Iran untuk memberi ruang negosiasi. Analis Al Jazeera, Ali Hashem, memperkirakan serangan terhadap dua fasilitas nuklir Iran ini bisa memicu IRGC untuk kembali menargetkan Dimona, situs nuklir Israel, seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya. Ini menunjukkan potensi eskalasi yang jauh lebih berbahaya, mengingat keterlibatan fasilitas nuklir di kedua belah pihak.