Warga Sudan di Kadugli dan Dilling kini bisa bernapas lega. Setelah berbulan-bulan hidup di bawah bayang-bayang pengepungan brutal, militer Sudan akhirnya berhasil menembus blokade Pasukan Dukungan Cepat (RSF), membuka kembali jalur vital yang bisa jadi penyelamat jutaan jiwa.
Kemenangan strategis ini dikonfirmasi langsung oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin de facto Sudan, pada hari Selasa. Dengan semangat, ia mengumumkan keberhasilan pasukannya membuka rute pasokan ke Kadugli, ibu kota Kordofan Selatan, menyusul sukses serupa enam hari sebelumnya di kota Dilling yang berjarak sekitar 100 kilometer. Ini adalah kemajuan besar kedua dalam waktu kurang dari seminggu, menandakan pergeseran dinamika konflik yang telah memporak-porandakan negara Afrika Timur ini sejak April 2023.
Meski menegaskan komitmen pada upaya perdamaian, Al-Burhan tegas menolak gencatan senjata dengan RSF selama kota-kota masih terkepung. Ia beralasan tidak akan memberi kesempatan 'musuh' untuk kembali mengumpulkan kekuatan. Penolakan ini mencerminkan betapa sengitnya perang saudara yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan orang terlantar, banyak korban jiwa, serta kelaparan dan penyakit yang merajalela.
Situasi di Kadugli sangat mencekam hingga PBB menyatakan wilayah tersebut dilanda kelaparan pada November lalu, lantaran akses makanan dan perawatan medis yang terputus total. Kondisi serupa juga terjadi di Dilling. Oleh karena itu, pembukaan jalur pasokan ini bukan sekadar kemenangan militer biasa. Ini adalah harapan nyata bagi warga sipil yang sudah sangat menderita. Seperti dilaporkan Hiba Morgan dari Al Jazeera, jalur ini berpotensi mengalirkan bantuan krusial berupa makanan dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan, meski pasar lokal mungkin belum bisa langsung beroperasi normal.
Sebelumnya, setelah kehilangan ibu kota Khartoum pada Maret lalu, RSF memang mengalihkan fokusnya ke wilayah Darfur Barat dan Kordofan tengah, bahkan sempat merebut ladang minyak terbesar Sudan. Kemenangan militer Sudan di Kadugli dan Dilling ini menjadi pukulan telak bagi strategi RSF dan membawa angin segar bagi pemerintah. Al-Burhan pun berjanji, 'Pasukan bersenjata akan mencapai mereka,' merujuk pada warga di wilayah lain yang masih berjuang di bawah bayang-bayang konflik, seperti di al-Geneina dan al-Tina.