Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, melontarkan peringatan keras tentang potensi konflik besar yang melibatkan Iran. Jika sampai terjadi, ia menyebutnya sebagai 'bencana ekonomi global' dengan dampak yang 'sangat nyata' dan bisa merusak seluruh tatanan ekonomi dunia.
Dalam pernyataannya, Pistorius menegaskan bahwa efek domino dari konflik semacam itu akan menghantam pasar energi, mengganggu jalur perdagangan vital, dan memicu inflasi yang melambung tinggi di berbagai negara. Oleh karena itu, ia mendesak agar ada gencatan senjata segera untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Sembari menyatakan keprihatinannya, Pistorius juga menegaskan posisi Jerman yang tidak akan ikut terseret dalam pusaran konflik tersebut.
Analisis dari berbagai pengamat ekonomi global mengamini kekhawatiran ini. Konflik yang melibatkan Iran, khususnya di wilayah Teluk, berpotensi melumpuhkan Selat Hormuz, jalur krusial pengiriman minyak dunia. Hal ini tentu akan memicu lonjakan harga energi secara drastis, mengganggu rantai pasok global, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk Indonesia yang sangat bergantung pada stabilitas harga minyak dan kelancaran perdagangan internasional. Eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini, seperti ketegangan di Laut Merah dan serangan balasan antarpihak, sudah memberi sinyal awal ancaman tersebut, menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan ekonomi global di tengah gejolak geopolitik.