Lebih dari delapan negara di Timur Tengah terpaksa menutup sebagian atau seluruh wilayah udaranya pada Sabtu lalu. Kebijakan darurat ini diambil menyusul gejolak ketegangan regional yang memuncak setelah serangan yang diduga dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran.
Negara-negara yang mengumumkan penutupan ini mencakup Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, serta sebagian wilayah selatan Suriah. Penutupan mendadak ini membuat perjalanan udara global terpukul hebat. Banyak maskapai penerbangan besar dunia, mulai dari Lufthansa, Air France, Turkish Airlines, Qatar Airways, hingga Air India, membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan yang melewati kawasan tersebut.
Kawasan Timur Tengah sendiri merupakan koridor udara vital yang menghubungkan Eropa dengan Asia, dan penutupan ini menambah runyam situasi setelah sebelumnya ruang udara Rusia dan Ukraina juga tak bisa dilewati akibat perang. Pihak Iran menegaskan bahwa semua aset dan kepentingan AS serta Israel di Timur Tengah kini dianggap sebagai sasaran sah, dan tidak ada lagi 'garis merah' dalam konflik yang tengah terjadi.
Situasi ini, menurut analisis, menciptakan dua konflik paralel yang saling terkait, memperdalam ketidakstabilan di kawasan yang sudah rentan ini. Dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai dan penumpang yang mengalami penundaan atau pembatalan, tetapi juga mengancam rantai pasok global dan stabilitas ekonomi regional dalam jangka panjang, memicu kekhawatiran meluasnya eskalasi militer di panggung internasional.