Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat membahas situasi keamanan di Haiti setelah geng bersenjata melancarkan serangan brutal terhadap kendaraan lapis baja yang mengangkut pasukan internasional. Insiden ini menjadi ujian pertama bagi Pasukan Penekan Geng (GSF) yang baru beroperasi sejak Juni lalu.
Empat tentara asal El Salvador yang bertugas sebagai teknisi penerbangan dilaporkan hilang setelah kendaraan mereka dihantam bahan peledak di Croix-des-Bouquets, wilayah utara Port-au-Prince. Tim penyelamat yang dikerahkan lewat jalur udara sempat diterjang tembakan gencar saat mencoba mendekati lokasi, sehingga evakuasi sempat terhambat.
Situasi di lapangan masih sangat panas. GSF mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah sementara mereka melakukan asesmen terhadap kondisi keamanan sekitar. Serangan ini belum diklaim oleh kelompok mana pun, namun wilayah tersebut diketahui dikuasai oleh aliansi geng bersenjata seperti Kraze Barye dan 400 Mawozo.
Dampak bagi masyarakat Haiti sangat luas. Geng bersenjata kini menguasai sekitar 70 persen ibu kota, membuat aktivitas warga lumpuh dan memicu krisis kemanusiaan. Sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada 2021, kekerasan telah memaksa 1,5 juta orang mengungsi. Data PBB mencatat ribuan korban jiwa dan kasus penculikan sepanjang tahun ini, menambah kompleksitas persiapan pemilu pertama Haiti dalam lebih dari satu dekade terakhir.