Sebuah serangan udara yang menghantam sebuah bangunan hunian di Teheran, Iran, pada 9 Maret 2026 telah merenggut 12 anggota keluarga dari seorang pria bernama Hamed Mirzaei. Dalam kesaksiannya kepada Al Jazeera, Hamed menceritakan bahwa di antara korban adalah istrinya, Mohadeseh (26), yang baru setahun menikah dengannya. Pasangan muda itu tengah bersiap memulai keluarga baru ketika malapetaka datang.
Hamed mengenang detik-detik nahas itu. Saat ia sedang dalam perjalanan ke tempat kerja, istrinya sempat mengirim pesan meminta obat sakit kepala. Namun belum sempat ia membalas, suara desingan peluru kendali terdengar. Dalam hitungan menit, enam rudal menghantam rumahnya. Setibanya di lokasi, ia hanya mendapati kerangka bangunan yang masih membara, sementara tangga menuju lantai dua tempat istrinya berada telah runtuh. Hingga malam tiba, tim penyelamat tidak menemukan satu pun korban selamat dari reruntuhan.
Insiden ini menyisakan duka mendalam bagi Hamed yang kehilangan hampir seluruh keluarganya dalam sekejap. Peristiwa ini juga menjadi pengingat keras akan dampak kemanusiaan dari konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah, di mana warga sipil kerap menjadi korban utama. Masyarakat internasional pun kembali dihadapkan pada pertanyaan besar mengenai perlindungan terhadap non-kombatan dalam situasi perang.