Dominasi Amerika Serikat di ajang Kejuaraan Dunia Senam Artistik putri akhirnya terhenti. China berhasil merebut medali emas setelah menyingkirkan AS dengan selisih tipis 0,233 poin di Rotterdam, Belanda, Rabu (23/10). Kemenangan ini sekaligus memutus rekor AS yang sebelumnya selalu juara sejak 2010.
AS sebenarnya memimpin di pertengahan pertandingan berkat performa apik Skye Blakely di nomor lompat kuda dan palang bertingkat. Namun, petaka datang dari balok keseimbangan. Caylor Dulcy yang baru berusia 18 tahun terjatuh dan hanya mencetak 12,333 poin. Di sisi lain, atlet China Zhang Qingying tampil nyaris sempurna dengan skor 15,066, membalikkan keadaan secara drastis.
Tekanan kemudian berpindah ke pundak Qiu Qiyuan. Sebagai penentu di nomor lantai, Qiu dituntut mencetak minimal 12,600 poin. Dengan mental baja, ia berhasil mengunci kemenangan China dengan skor 12,833, membawa negaranya kembali meraih gelar juara dunia tim putri untuk pertama kalinya sejak 2006.
Kemenangan China ini menjadi sinyal bahaya bagi AS yang saat ini sedang kehilangan ikonnya, Simone Biles. Biles, yang telah mengoleksi 23 gelar dunia, memilih rehat dari dunia senam sejak Olimpiade Paris 2024. Tanpa Biles, kedalaman skuad AS mulai teruji, terutama saat menghadapi tekanan di nomor balok yang terkenal rawan kesalahan.
Bagi publik Indonesia, dinamika ini menunjukkan bahwa peta kekuatan senam dunia tidak lagi mutlak milik satu negara. Ketatnya persaingan di Rotterdam membuktikan bahwa konsistensi dan ketenangan mental di alat terakhir menjadi kunci utama, sebuah pelajaran berharga bagi pembinaan atlet nasional.