SAIDEN, INDIA - Di sebuah desa terpencil di perbukitan Meghalaya, India timur laut, ada tradisi unik yang berlangsung setiap empat tahun sekali. Bukan Piala Dunia, melainkan kemunculan jutaan serangga niangtaser, sejenis jangkrik langka yang hanya ditemukan di wilayah ini.
Fenomena alam ini bertepatan dengan perhelatan Piala Dunia sepak bola. Warga desa Saiden bahkan menganggap keduanya sebagai penanda waktu yang sama. 'Setiap empat tahun, Piala Dunia datang, begitu juga niangtaser. Bagi kami, ini seperti kalender yang sama,' ujar Evansis Jones Myrthong, kepala desa setempat.
Kemunculan niangtaser terjadi pada Mei hingga Juni, saat hujan pertama turun setelah musim panas. Ribuan serangga ini keluar dari tanah setelah empat tahun berada di bawah permukaan. Suara dengungan mereka memenuhi hutan, menciptakan simfoni alam yang khas.
Bagi generasi tua di desa itu, kenangan akan Piala Dunia dan niangtaser tak terpisahkan. Evansis masih ingat saat remaja, ia dan warga lain berkumpul di sekolah desa untuk menonton siaran langsung Piala Dunia di satu-satunya televisi hitam-putih milik pemerintah. 'Gedung sekolah penuh sesak. Kami meninggalkan niangtaser di rumah dan langsung ke sana untuk menonton sampai jam dua atau tiga pagi,' kenangnya.
Petani setempat, Livingstone B Marak, yang akrab disapa Livi, menjelaskan bahwa suara hutan dan datangnya Piala Dunia adalah sinyal yang sama. 'Satu mulai berdengung, yang lain mulai. Kalendernya sesederhana itu,' katanya.
Dampak dan Analisis: Fenomena ini menjadi contoh menarik bagaimana alam dan budaya bisa saling terkait. Bagi masyarakat Saiden, siklus hidup niangtaser bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan bagian dari identitas dan penanda waktu sosial. Keunikan ini juga berpotensi menjadi daya tarik ekowisata yang bisa meningkatkan ekonomi lokal. Namun, para ahli mengingatkan bahwa perubahan iklim dan deforestasi dapat mengancam habitat niangtaser, yang hanya ditemukan di kawasan terbatas ini. Jika tidak dijaga, tradisi unik yang telah berlangsung turun-temurun ini bisa punah.