LONDON—Sebuah insiden yang menggegerkan kebebasan pers di Inggris Raya terungkap setelah jurnalis Al Jazeera menjadi korban intimidasi massal saat meliput dugaan pembakaran ambulans di London Utara. Lebih mencengangkan, seorang petugas polisi Metropolitan London yang sedang tidak bertugas dikonfirmasi terlibat dalam aksi pengepungan dan penghinaan terhadap para pewarta.
Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh pihak Metropolitan Police pada Kamis (13/6). Dalam pernyataannya, kepolisian mengakui adanya keterlibatan "petugas khusus Met yang sedang tidak bertugas" dalam insiden yang terjadi pada Senin (10/6) lalu di kawasan Golders Green. Kasus ini kini diserahkan ke Departemen Standar Profesional untuk ditinjau lebih lanjut.
Para jurnalis Al Jazeera awalnya berada di lokasi untuk meliput dugaan pembakaran empat ambulans relawan milik sebuah badan amal Yahudi setempat yang terjadi pada dini hari Senin. Insiden pembakaran itu sendiri telah menyeret dua pria berusia 40-an yang kemudian ditangkap pada Rabu (12/6).
Namun, suasana berubah tegang. Rekaman video yang viral di media sosial menunjukkan sekelompok warga, beberapa di antaranya terlihat mengenakan yarmulke (penutup kepala tradisional Yahudi), berteriak dan meminta awak Al Jazeera meninggalkan lokasi. Salah satu pria dalam video bahkan kedapatan menghina kru Al Jazeera dalam bahasa Arab dengan sebutan "keluar dari sini, hai keledai, hai anjing." Pria ini kemudian diidentifikasi oleh media lokal Declassified UK sebagai seorang petugas polisi Metropolitan.
Insiden ini langsung menuai kecaman luas di jagat maya, dengan banyak pihak menyuarakan dukungan untuk Al Jazeera dan menekankan pentingnya kebebasan pers. Pihak Metropolitan Police juga mengakui telah menyaksikan rekaman tersebut, seraya menegaskan bahwa "kebebasan pers adalah hal penting, dan jurnalis harus bisa melakukan pekerjaannya tanpa intimidasi atau pelecehan."
Meski petugas kepolisian sempat turun tangan di lokasi, mereka mengakui bahwa ada "periode waktu yang panjang di mana jurnalis berada dalam situasi sulit, yang membuat mereka harus meninggalkan area tersebut." Kepolisian kini meninjau rekaman insiden untuk mengidentifikasi apakah ada pelanggaran hukum yang terjadi, sekaligus meminta petugas di lapangan untuk lebih sigap mengantisipasi kejadian serupa.
Insiden ini bukan hanya sorotan pada perilaku oknum polisi, tetapi juga menyoroti tensi yang kerap muncul dalam peliputan isu sensitif. Mengingat Al Jazeera seringkali diasosiasikan dengan liputan yang kritis terhadap isu-isu tertentu, termasuk konflik di Timur Tengah, serta lokasi kejadian yang merupakan komunitas Yahudi, insiden ini dapat dilihat sebagai manifestasi ketegangan sentimen yang lebih luas. Pihak berwenang di London dituntut untuk serius melindungi ruang gerak jurnalis dan menjamin kebebasan pers, terutama di tengah meningkatnya polarisasi opini publik.