Sebuah laporan terbaru dari firma keamanan siber Proofpoint mengungkap bahwa kelompok peretas yang diduga berafiliasi dengan China, TA419, telah melancarkan serangan siber dengan menyamar sebagai pakar kecerdasan buatan (AI) terkemuka di Amerika Serikat. Salah satu target utama mereka adalah Lynne Edwards Parker, mantan pejabat tinggi di Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih.
Modus operandi kelompok ini terbilang canggih dan menipu. Mereka mengirim email yang tampak tidak berbahaya, seperti undangan untuk bergabung dengan 'Komite Penasihat Kebijakan AI'. Setelah target merespons, mereka akan diarahkan ke halaman login palsu yang dirancang untuk mencuri kredensial atau data pribadi mereka. Teknik ini melibatkan pembuatan jendela pop-up palsu di dalam situs web yang sah, sehingga korban sulit menyadari bahwa mereka sedang memberikan informasi sensitif kepada peretas.
Serangan yang berlangsung sejak April 2025 ini tidak hanya menyasar pakar kebijakan di Amerika Serikat, tetapi juga di Jepang. Target mereka meliputi para ahli dari lembaga pemikir (think tank), kontraktor pertahanan, universitas, dan firma hukum. Salah satu korban yang berhasil dikonfirmasi adalah Alex Engler, mantan pejabat Gedung Putih yang kini memimpin Penn Center on Media, Technology, and Democracy. Engler mengaku menerima email tersebut, namun setelah melakukan verifikasi dengan rekannya, ia menyadari bahwa pengirimnya adalah seorang penyamar.
Proofpoint menilai bahwa kelompok TA419 ini akan terus melanjutkan aksi mereka untuk menargetkan lembaga pemikir dan pakar kebijakan lainnya. Mereka diprediksi akan terus menggunakan identitas asli para ahli untuk menjebak korban-korban baru. Insiden ini menjadi pengingat keras bagi para profesional, terutama di sektor kebijakan publik dan teknologi, untuk selalu waspada terhadap upaya phishing yang semakin canggih dan menargetkan kalangan elit.