Pasar saham Amerika Serikat diguncang aksi jual besar-besaran. Saham SpaceX milik Elon Musk anjlok lebih dari 9 persen, sementara Tesla merosot tajam hingga 11 persen pada perdagangan Kamis. Aksi jual ini bukan tanpa alasan. Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan midterm memicu kekhawatiran baru di kalangan investor terhadap masa depan industri kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data.
Kekhawatiran ini berawal dari janji politik di negara bagian kunci seperti Texas. Gubernur terpilih Texas, Gina Hinojosa, gencar berkampanye menolak pembangunan pusat data dan berjanji menghentikan moratorium proyek tersebut. Padahal, Texas selama ini menjadi salah satu lokasi utama ekspansi infrastruktur AI. Elon Musk sendiri diketahui telah menggelontorkan dana politik besar, termasuk dukungan untuk kandidat Republikan di Texas, namun hasil pemilu justru berbalik arah.
Dampaknya terasa luas. Indeks Nasdaq Composite yang padat teknologi sempat anjlok lebih dari 5 persen, dan S&P 500 turun 3,8 persen. Saham produsen chip juga terkena imbasnya: AMD turun 14 persen, Micron anjlok hingga 17 persen, dan Nvidia melemah 9 persen. Indeks Semikonduktor Philadelphia bahkan merosot 10 persen.
Para pelaku industri teknologi pun mulai bereaksi. Presiden OpenAI, Greg Brockman, mengakui bahwa mereka terkejut dengan gelombang penolakan terhadap pusat data di tingkat akar rumput. Ia menekankan perlunya pendekatan langsung ke komunitas, bukan sekadar kampanye di media sosial. Senada dengan itu, Presiden Meta, Dina Powell McCormick, menilai industri perlu lebih gencar mengedukasi publik tentang manfaat AI.
Di balik gejolak politik, muncul kekhawatiran lebih dalam: apakah saham AI saat ini sedang mengalami bubble? Investor mulai meragukan apakah investasi masif di infrastruktur AI akan memberikan imbal hasil sesuai ekspektasi, terutama jika pembangunan pusat data melambat akibat tekanan politik. Strategi investasi di sektor teknologi kini menghadapi ketidakpastian ganda: risiko regulasi dan koreksi pasar.