Ketegangan di Tanduk Afrika kembali memuncak. Lebih dari 50 orang dilaporkan tewas setelah pertempuran sengit kembali meletus di Ethiopia utara pekan lalu. Situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik regional yang lebih luas.
Puncaknya, Ethiopia resmi memutus hubungan diplomatik dengan Eritrea. Pemerintah Ethiopia menutup kedutaannya di Asmara dan mengusir 10 diplomat Eritrea dalam waktu 48 jam. Mereka dituduh melakukan aktivitas yang mengancam keamanan nasional.
Eritrea tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan memutus semua hubungan diplomatik, menyebut keputusan Ethiopia sebagai tindakan yang 'mengejutkan' dan tidak meninggalkan pilihan lain selain tindakan timbal balik.
Ketegangan ini dipicu oleh tuduhan Ethiopia bahwa Eritrea mendukung aliansi kelompok bersenjata yang bertujuan menggulingkan pemerintah Perdana Menteri Abiy Ahmed. Aliansi ini melibatkan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) dan milisi Fano. Eritrea membantah keras tuduhan tersebut, menuduh Ethiopia sedang mengalihkan perhatian dari masalah internal mereka.
Ini adalah eskalasi terburuk sejak perjanjian damai 2022 yang mengakhiri perang Tigray. Konflik dua tahun sebelumnya diperkirakan menelan korban hingga 600.000 jiwa. Masyarakat kini dihantui trauma masa lalu dan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan baru serta ketidakstabilan ekonomi di kawasan.