Insiden penembakan yang dilakukan oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) di New York City kembali memicu kemarahan publik. Peristiwa yang terjadi pada Kamis sore waktu setempat ini bermula saat petugas berusaha menangkap seorang pria bernama Oscar Belgal. Namun, situasi memanas ketika Belgal diduga menolak keluar dari mobilnya dan justru menancap gas hingga menabrak dua kendaraan ICE. Petugas pun melepaskan tembakan yang mengenai leher Belgal, sementara anaknya yang berusia lima tahun berada di kursi belakang.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) membela tindakan anggotanya dengan dalih petugas tidak mengetahui ada anak di dalam mobil. Mereka melabeli Belgal sebagai migran tanpa dokumen asal Republik Dominika yang terlibat kasus geng dan pernah divonis lima tahun penjara pada April 2025. Namun, insiden ini langsung menuai kecaman keras dari Wali Kota New York, Zohran Mamdani, yang menuntut penghentian operasi ICE di kotanya. Aksi protes pun pecah di wilayah Bronx, berujung bentrokan antara demonstran dan polisi setempat.
Insiden ini menjadi sorotan tajam karena terekam oleh body camera petugas, meski rekaman tersebut belum dipublikasikan ke publik. Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi operasi ICE di AS, di mana seringkali keterangan resmi pemerintah terbantahkan oleh bukti video di lapangan. Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat keras akan eskalasi ketegangan antara kebijakan imigrasi federal dan keamanan warga sipil, terutama yang melibatkan anak-anak.