NEW DELHI - Bintang YouTube India, Dhruv Rathee, menggegerkan publik dengan pengakuannya bahwa ia diculik dari rumahnya dan ditahan selama hampir 24 jam tanpa pendampingan pengacara. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah ia secara terbuka menuntut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) India untuk mundur dari jabatannya.
Rathee, yang dikenal sebagai kritikus vokal pemerintah, mengungkapkan bahwa ia diambil paksa dari kediamannya. Selama masa penahanan tersebut, ia mengklaim tidak diberi akses untuk menghubungi keluarga atau kuasa hukumnya, sebuah pelanggaran yang memicu kekhawatiran serius terhadap kebebasan sipil di negara demokrasi terbesar dunia itu.
Situasi semakin memanas menjelang hari Senin, di mana New Delhi bersiap menghadapi gelombang protes massal. Para pengunjuk rasa berencana melakukan long march menuju Gedung Mahkamah Agung India. Aksi ini diprediksi akan diikuti oleh ribuan orang yang menuntut transparansi dan keadilan atas apa yang mereka anggap sebagai tindakan represif terhadap suara kritis.
Analisis Dampak: Kasus penculikan ini menjadi katalisator kemarahan publik. Bagi masyarakat India, kejadian ini bukan sekadar isu selebritas, melainkan simbol melemahnya ruang demokrasi. Jika figur publik sekaliber Rathee bisa 'dihilangkan' sementara, publik khawatir warga biasa akan lebih rentan terhadap kesewenang-wenangan. Fokus utama media internasional saat ini tertuju pada bagaimana aparat keamanan menangani protes besar-besaran nanti, yang bisa menentukan arah stabilitas politik India dalam jangka pendek.