Kabar mengejutkan datang dari pabrikan mobil listrik kenamaan, Tesla. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, mereka mencatatkan penurunan pendapatan tahunan di tengah persaingan pasar otomotif yang semakin ketat. Meski begitu, perusahaan milik Elon Musk ini justru membuat gebrakan berani dengan mengucurkan investasi jumbo ke sektor kecerdasan buatan (AI).
Laporan keuangan terbaru menunjukkan, Tesla membukukan pendapatan sebesar $24,9 miliar di kuartal terakhir 2025, turun 3 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan tahun 2025, pendapatan Tesla mencapai $94,8 miliar, anjlok dari $97,7 miliar di tahun 2024. Tak hanya itu, laba bersih juga terjun bebas 61 persen menjadi $840 juta di kuartal akhir, membuat total laba setahun menyusut drastis dari $7,1 miliar di 2024 menjadi hanya $3,8 miliar.
Di tengah kondisi finansial yang kurang memuaskan ini, Tesla mengumumkan investasi senilai $2 miliar untuk xAI, startup kecerdasan buatan milik Elon Musk sendiri, yang dikenal sebagai pengembang chatbot kontroversial Grok. Langkah strategis ini disebut-sebut sebagai upaya Tesla untuk mengurangi ketergantungan pada pasar otomotif dan mempercepat pengembangan serta penerapan produk dan layanan AI di dunia nyata. Menariknya, pasca-pengumuman ini, saham Tesla justru menguat sekitar 2,2 persen dalam perdagangan setelah jam kerja.
Laporan keuangan Tesla ini muncul di tengah hiruk pikuk rilis kinerja raksasa teknologi lainnya. Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, mencetak laba $22,8 miliar dan pendapatan $59,9 miliar, naik 6 persen secara tahunan, membuat sahamnya melesat hampir 7 persen. Sementara itu, Microsoft juga tampil perkasa dengan laba $38,5 miliar (naik 60 persen) dan pendapatan $81,3 miliar. CEO Microsoft, Satya Nadella, menegaskan bahwa bisnis AI perusahaan kini sudah melampaui beberapa waralaba terbesar mereka, menandakan ambisi besar di ranah kecerdasan buatan.
Namun, di balik kegemilangan itu, pengeluaran modal Microsoft yang mencapai rekor $37,5 miliar di kuartal kedua justru memicu kekhawatiran 'gelembung investasi AI' di pasar, menyebabkan saham perusahaan anjlok lebih dari 6 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai waspada terhadap laju investasi masif di sektor AI yang mungkin belum sepenuhnya terbukti keberlanjutannya. Di sisi lain, Samsung Electronics, produsen chip memori terbesar dunia, mencatatkan kenaikan laba lebih dari tiga kali lipat menjadi 20,1 triliun won ($13,98 miliar) dengan pendapatan 93,8 triliun won ($65,6 miliar).
Pergeseran strategi Tesla ini menunjukkan visi Elon Musk yang lebih luas dari sekadar produsen mobil. Ia tampaknya melihat Tesla sebagai perusahaan AI dan robotika, dengan kendaraan listrik sebagai salah satu platform utamanya. Ini bisa menjadi sinyal kuat bagi industri otomotif dan teknologi bahwa integrasi AI bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan inti dari model bisnis masa depan. Namun, kekhawatiran 'gelembung AI' seperti yang disorot dari kasus Microsoft juga menjadi pengingat penting bagi para pelaku industri: inovasi harus dibarengi dengan fondasi bisnis yang kokoh agar tidak terjebak dalam euforia sesaat yang bisa berdampak pada stabilitas ekonomi dan pasar.