Ketegangan di perbatasan Afghanistan dan Pakistan kembali memuncak setelah Pakistan melancarkan serangan udara pada Minggu pagi. Operasi militer ini diklaim menargetkan markas kelompok bersenjata, namun dibantah keras oleh Kabul yang menuduh adanya pelanggaran kedaulatan dan serangan terhadap warga sipil. Klaim jumlah korban pun berbeda, memicu eskalasi konflik di antara dua negara tetangga di Asia Selatan ini.
Seorang pejabat senior pemerintah Pakistan mengklaim, serangan udara tersebut menewaskan setidaknya 70 pejuang. Bahkan, media pemerintah Pakistan melaporkan angka korban tewas mencapai 80, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menjelaskan bahwa operasi ini adalah "operasi selektif berbasis intelijen" terhadap tujuh kamp milik kelompok Taliban Pakistan (TTP) dan afiliasinya.
Presiden Asif Ali Zardari menegaskan, serangan ini adalah hak membela diri Pakistan dari terorisme, terutama setelah peringatan berulang kepada Kabul untuk menindak kelompok bersenjata tidak diindahkan. Pakistan berdalih, Kabul gagal mengambil tindakan substantif untuk mencegah kelompok bersenjata menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis serangan ke Pakistan.
Namun, klaim Pakistan ini langsung dibantah oleh pejabat Afghanistan. Kementerian Pertahanan Afghanistan menyatakan, serangan tersebut justru menghantam "berbagai daerah sipil" di provinsi timur Nangarhar dan Paktika, termasuk sebuah sekolah agama dan beberapa rumah warga. Mereka menyebut serangan ini sebagai pelanggaran wilayah udara dan kedaulatan Afghanistan. Juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, mengecam tindakan Pakistan sebagai "tindakan kriminal" yang menghancurkan rumah-rumah dan menargetkan warga sipil.
Saksi mata, seperti Amin Gul Amin (37) dari distrik Bihsud, Nangarhar, menceritakan bagaimana warga harus mencari korban di bawah puing-puing dengan sekop dan alat berat, menegaskan dampak langsung terhadap penduduk biasa. Eskalasi ini mengancam gencatan senjata rapuh yang disepakati Oktober lalu setelah bentrokan mematikan di perbatasan yang menewaskan puluhan tentara, warga sipil, dan militan. Afghanistan sendiri secara konsisten menolak tuduhan Pakistan bahwa wilayahnya digunakan oleh kelompok bersenjata untuk melancarkan serangan. Konflik berulang ini menunjukkan ketegangan yang mendalam dan berpotensi memperburuk stabilitas regional, sekaligus menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil yang tidak terlibat.