Gelombang demonstrasi besar di Prancis berakhir ricuh. Pada Sabtu (28/3), sekitar 550.000 orang turun ke jalan untuk memprotes kenaikan harga bahan bakar, biaya hidup yang makin mahal, serta memburuknya layanan publik seperti sekolah. Aksi yang awalnya damai berubah jadi kekacauan setelah sekelompok perusuh bergabung.
Di Paris, Marseille, dan Lille, massa merusak etalase toko, membakar mobil dan sepeda, serta menjarah sejumlah gerai. Bahkan sebuah restoran di Paris hangus terbakar. Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Sebanyak 1.800 orang ditahan dan 150 polisi dilaporkan terluka.
Kerugian material cukup besar. Toko-toko merek mewah seperti Ralph Lauren, Gucci, dan Versace jadi sasaran perusakan. Seorang pemilik toko pakaian di dekat Place de la République mengaku tokonya dijarah selama 1,5 jam tanpa ada polisi yang datang. Ia menduga para penjarah bukan demonstran sungguhan, melainkan orang yang memanfaatkan situasi.
Rekaman CCTV dari Channel 2 Prancis menunjukkan sekelompok remaja bertopeng mencuri barang di toko ponsel. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyebut kerusuhan ini sebagai tantangan serius bagi keamanan publik. Bagi masyarakat, insiden ini menambah kekhawatiran akan stabilitas keamanan dan dampak ekonomi bagi pemilik usaha kecil yang harus menanggung kerugian besar.