Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Pasukan yang mendukung pemerintah Yaman mengklaim telah menggagalkan serangan udara besar-besaran yang menyasar Arab Saudi. Dalam operasi pertahanan tersebut, mereka berhasil mencegat sebuah drone yang terbang menuju Kota Medina dan sebuah misil balistik yang diarahkan ke ibu kota Riyadh.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang semakin intensif antara kelompok Houthi yang didukung Iran melawan koalisi pimpinan Saudi. Pertempuran darat juga dilaporkan semakin sengit di sepanjang pesisir Laut Merah bagian barat Yaman.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa pihaknya telah melancarkan operasi militer berkualitas tinggi yang menargetkan fasilitas Aramco di Dhahran, bandara Riyadh, serta sebuah kiln pengilangan minyak. Mereka berjanji akan terus meningkatkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Saudi dalam beberapa hari mendatang.
Otoritas Saudi membenarkan adanya insiden di Dhahran, di mana sebuah bangunan milik Aramco terkena dampak dan memicu kebakaran terbatas, meskipun tidak ada korban jiwa. Sebagai balasan, koalisi pimpinan Saudi meluncurkan serangan udara ke basis pertahanan Houthi di Sanaa, Yaman.
Dampak dari konflik ini sangat terasa bagi masyarakat sipil. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh terpaksa ditutup setidaknya hingga hari Sabtu, menyebabkan banyak penerbangan dibatalkan dan ruang udara ibu kota menjadi sepi. Serangan sebelumnya juga dilaporkan menewaskan belasan orang dan melukai ratusan lainnya. Pengamat menilai Arab Saudi memiliki kerugian ekonomi yang jauh lebih besar dibanding Houthi jika perang saling balas ini terus berlanjut, terutama karena terganggunya sektor penerbangan dan infrastruktur vital negara.