Perintah eksekutif yang ditandatangani Trump hari Kamis (waktu setempat) ini bukan main-main. Washington menyatakan pemerintah Kuba sebagai 'ancaman luar biasa' bagi keamanan nasional AS. Tuduhannya, rezim di Havana punya hubungan erat dengan negara-negara dan kelompok yang dianggap musuh AS, seperti Rusia, China, Iran, Hamas, dan Hezbollah. Intinya, siapa pun negara yang nekat jual minyak ke Kuba, impor barangnya ke AS bakal kena tarif tambahan.
Ancaman baru ini muncul tak lama setelah insiden dramatis awal bulan ini: pasukan militer AS menyerbu Caracas, ibu kota Venezuela, dan menculik Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya dalam operasi malam yang berdarah. Sejak saat itu, AS praktis menguasai sektor minyak Venezuela dan berjanji akan menghentikan seluruh pasokan minyak ke Kuba yang selama ini berjalan.
Trump sendiri sudah berkali-kali melontarkan ancaman. 'Kuba akan segera bangkrut,' ujarnya pekan ini, menyoroti hilangnya pasokan minyak dan pendapatan dari Venezuela. Ia mendesak kepemimpinan Kuba untuk 'membuat kesepakatan, sebelum terlambat', tanpa merinci kesepakatan macam apa yang dimaksud.
Namun, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel tak gentar. Ia menegaskan Washington tak punya otoritas moral untuk memaksa kesepakatan apa pun. Kuba, yang sudah puluhan tahun diblokade AS sejak 1962, memang seringkali mengalami krisis bahan bakar yang berujung pada pemadaman listrik massal. Diaz-Canel menekankan bahwa hubungan kedua negara harus berlandaskan hukum internasional, bukan permusuhan atau tekanan ekonomi.
Tekanan AS ini juga menjalar ke Meksiko. Pekan ini, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengumumkan bahwa pemerintahannya telah menghentikan sementara pengiriman minyak ke Kuba. Meski Sheinbaum bersikeras ini adalah 'keputusan berdaulat' dan bukan karena tekanan Washington, timing-nya tentu menimbulkan pertanyaan.
Sebelumnya, Meksiko bersama Venezuela adalah pemasok utama minyak Kuba. Data The Financial Times menunjukkan, Meksiko menyumbang sekitar 44 persen impor minyak Kuba, sedangkan Venezuela 33 persen hingga bulan lalu. Setelah pasokan dari Venezuela putus total sejak penangkapan Maduro pada 3 Januari, kini Kuba harus mencari alternatif. Sebagian kecil lainnya, sekitar 10 persen, berasal dari Rusia dan sisanya dari Aljazair.
Dengan ancaman tarif baru ini, bisa dipastikan Kuba akan semakin tercekik. Kelangkaan bahan bakar yang sudah menjadi masalah kronis diprediksi bakal makin parah, memicu pemadaman listrik yang lebih luas dan memperparah kondisi ekonomi masyarakat. Langkah AS ini juga mengirim sinyal keras kepada negara lain agar tidak menjalin kerja sama dengan Kuba, semakin mengisolasi Havana di panggung internasional. Ini adalah babak baru dalam strategi AS menekan pemerintahan yang dianggap tidak sejalan, dengan dampak langsung yang terasa pahit bagi rakyat Kuba.