Kelompok bersenjata yang diduga kuat merupakan bagian dari Allied Democratic Forces (ADF) kembali melancarkan aksi brutal di Republik Demokratik Kongo (DRC). Dalam serangan yang berlangsung tengah malam di Desa Cantine, wilayah Beni, North Kivu, puluhan warga sipil dilaporkan tewas dan puluhan rumah dibakar. Yang lebih mengkhawatirkan, serangan ini memaksa sekitar 180 pasien di pusat kesehatan setempat mengungsi, termasuk mereka yang sedang dirawat karena terinfeksi maupun dicurigai mengidap Ebola.
Data dari kelompok masyarakat sipil setempat menyebutkan angka korban jiwa mencapai 33 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat luka tembak, sementara yang lain tewas karena dibakar atau ditebas parang oleh pelaku. Administrator wilayah Beni, Kolonel Charles Omeonga, membenarkan insiden tersebut dan menyalahkan ADF atas kekacauan ini. Serangan ini tidak hanya menghancurkan fasilitas kesehatan, tetapi juga memicu kekhawatiran besar akan potensi ledakan kasus Ebola baru.
Direktur Medis Pusat Kesehatan Kelekele, Christian Kakule, mengungkapkan bahwa para pasien yang kabur meliputi kasus suspek dan satu kasus konfirmasi Ebola. Menurutnya, situasi ini sangat berbahaya karena pasien berisiko tinggi tersebut kini berada di luar pengawasan medis dan bisa menjadi sumber penularan di tengah masyarakat. Insiden ini terjadi saat DRC sedang berjuang keras melawan wabah Ebola Bundibugyo yang penyebarannya sangat cepat, dengan North Kivu sebagai salah satu provinsi paling terdampak.
Kelompok ADF sendiri merupakan milisi yang berbasis di Uganda dan telah berafiliasi dengan ISIS sejak 2019. Keberadaan mereka menambah kompleksitas masalah keamanan di wilayah timur DRC, yang juga dihuni oleh sekitar 100 kelompok bersenjata lain. Masyarakat sipil menyoroti kegagalan keamanan ini, mempertanyakan bagaimana kelompok bersenjata bisa menembus pertahanan militer yang seharusnya ketat di wilayah tersebut.