Hasil pemilihan sela (midterm) Amerika Serikat menjadi pukulan telak bagi Partai Republik. Gelombang biru Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat, mengubah peta kekuatan politik yang sebelumnya dikuasai Donald Trump. Meski menang, Demokrat masih kekurangan suara dua pertiga untuk membatalkan veto presiden, sehingga jalur legislasi mereka tidak akan mulus sepenuhnya.
Kemenangan ini menjadi referendum atas kebijakan kontroversial Trump, terutama keputusannya memulai perang dengan Iran pada Februari lalu. Perang tersebut sangat tidak populer karena menyebabkan harga bahan bakar melonjak akibat penutupan Selat Hormuz dan menguras kas negara hingga 47 miliar dolar AS. Bahkan sejumlah politisi senior Republik mulai menjaga jarak dari konflik ini.
Bagi masyarakat internasional, perubahan komposisi Kongres ini membawa angin segar. Pemimpin Eropa berharap legislator Demokrat yang mulai menjabat Januari mendatang dapat memperbaiki hubungan transatlantik yang retak dan mengembalikan dukungan Washington untuk Ukraina yang sempat ditarik Trump. Selain itu, gelombang politisi progresif baru di pemerintahan diprediksi akan lebih vokal menentang aksi militer Israel di Gaza dan kekerasan pemukim di Tepi Barat, berbeda dengan sikap pasif pemerintahan sebelumnya.
Meskipun demikian, Trump telah bersumpah akan menggunakan kekuatan veto presidennya untuk memblokir kebijakan Demokrat yang dianggap 'gila'. Dengan kata lain, meskipun Demokrat kini memegang kendali kongres, kebuntuan politik (gridlock) masih sangat mungkin terjadi jika tidak ada kompromi dari kedua belah pihak.