BEIRUT, LIBANON - Keputusan Hezbollah untuk membuka front 'perang dukungan' bagi Gaza pada 8 Oktober 2023 lalu ternyata membawa dampak balik yang fatal bagi kelompok tersebut. Analisis politik menyebut langkah ini justru menjadi titik balik yang mengubah realitas politik Lebanon secara permanen.
Para pengamat menilai Hezbollah telah salah membaca situasi. Mereka meremehkan kedalaman penetrasi intelijen Israel yang kemudian terbukti mematikan melalui serangan pager berdarah pada September 2024 dan pembunuhan terhadap hampir seluruh jajaran pimpinan mereka, termasuk Sekretaris Jenderal Hassan Nasrallah.
Nicholas Blanford, peneliti senior di Atlantic Council, menggambarkan situasi ini sebagai 'pusaran' yang menyeret Hezbollah hingga mengalami 'dekaputasi' kepemimpinan dan invasi ke Lebanon selatan. Akibatnya, posisi tawar kelompok yang dulunya hegemon ini di panggung politik Lebanon pun runtuh.
Dampak lanjutannya cukup signifikan. Melemahnya Hezbollah membuka jalan bagi terpilihnya Joseph Aoun sebagai presiden dan pembentukan pemerintahan baru yang mengambil garis keras terhadap kelompok bersenjata tersebut. Meski belum bisa dibilang kalah total, Hezbollah tidak lagi menjadi kekuatan dominan seperti sebelum 7 Oktober.
Bagi masyarakat Lebanon, perubahan ini membawa angin segar sekaligus ketidakpastian. Di satu sisi, ini adalah peluang emas untuk reformasi sistem sektarian yang lama dikuasai milisi. Namun di sisi lain, kekosongan kekuasaan dan ketegangan dengan Israel tetap menjadi bayang-bayang yang mengancam stabilitas keamanan warga sipil di perbatasan selatan.