Gelombang protes kembali melanda Tunisia. Aksi unjuk rasa terjadi di beberapa kota, termasuk ibu kota Tunis dan Jebiniana, dipicu oleh kematian warga yang diduga akibat kekerasan aparat kepolisian.
Di Ettadhamen, pinggiran Tunis, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang memblokir jalan dan membakar ban. Protes ini muncul setelah seorang pria tewas dalam tahanan polisi atas tuduhan narkoba. Keluarga korban menuding adanya penganiayaan, sementara media lokal melaporkan pria tersebut meninggal karena menelan narkoba. Insiden serupa juga terjadi di Jebiniana, Sfax, di mana seorang pria tewas saat dikejar aparat keamanan.
Selain itu, mahasiswa di Sfax juga turun ke jalan memprotes kematian seorang mahasiswi yang diduga terlambat mendapat layanan ambulans. Mereka menuntut perbaikan fasilitas medis dan mengancam akan melakukan mogok kuliah.
Analisis singkat: Rangkaian protes ini bukan sekadar buntut dari kasus individual, melainkan ledakan dari krisis ekonomi, sosial, dan politik yang makin dalam di Tunisia. Kekecewaan masyarakat terhadap buruknya pelayanan publik dan penurunan kualitas hidup menjadi bahan bakar utama. Situasi ini diperparah dengan langkah pemerintah yang dianggap semakin otoriter, seperti vonis 4 tahun penjara terhadap politisi oposisi Olfa Hamdi pada Rabu lalu. Jika tidak segera direspons dengan perbaikan nyata, gelombang protes berpotensi meluas dan memicu instabilitas politik yang lebih besar.