Ribuan mahasiswa dan warga Serbia kembali turun ke jalan di Kota Novi Sad, menyuarakan perlawanan terhadap korupsi yang marak di bawah pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic. Para mahasiswa, yang selama lebih dari setahun memimpin demonstrasi besar, kali ini datang dengan sebuah proposal konkret: melarang pejabat korup berkecimpung di panggung politik dan mengusut tuntas harta kekayaan mereka.
Aksi protes yang mereka sebut 'Apa Arti Kemenangan' ini menjadi babak baru perjuangan mereka. Mahasiswa menyampaikan kepada massa pada Sabtu (waktu setempat) bahwa rencana itu merupakan langkah awal yang krusial bagi pemerintahan pasca-Vucic untuk memulihkan supremasi hukum dan membersihkan Serbia dari korupsi. Sebelumnya, pada bulan lalu, mereka telah mengumpulkan sekitar 400.000 tanda tangan sebagai dukungan atas tuntutan pemilu.
Gelombang protes di Serbia ini dipicu oleh tragedi robohnya atap stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024, yang menewaskan 16 orang. Insiden memilukan itu menjadi simbol nyata dari korupsi yang mengakar kuat di negara tersebut. Tiga belas orang, termasuk mantan Menteri Konstruksi Goran Vesic, sempat didakwa dalam kasus kriminal atas keruntuhan itu. Namun, dakwaan terhadap Vesic telah dibatalkan bulan lalu karena dianggap kurang bukti, memicu kemarahan publik.
Para pengunjuk rasa, yang meneriakkan kata 'pencuri', secara terbuka menuduh pemerintah Vucic dipenuhi praktik korupsi. Presiden Vucic sendiri sudah memimpin Serbia lebih dari satu dekade. Ia berjanji akan membawa Serbia bergabung dengan Uni Eropa, namun justru dituduh mengerem kebebasan demokrasi, membiarkan korupsi dan kejahatan terorganisir merajalela, serta malah mempererat hubungan dengan Rusia dan Tiongkok.
Vucic membantah semua tuduhan korupsi dan kerap melabeli para demonstran sebagai komplotan kudeta yang didanai asing. Sementara itu, anggota partainya, SNS, menyebarkan teori konspirasi yang mengklaim bahwa robohnya atap stasiun kereta itu mungkin adalah serangan yang terencana. Vucic juga menolak untuk segera mengadakan pemilu dini yang telah dituntut oleh mahasiswa.
Meski ratusan orang telah ditahan, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi tekanan karena menentang pemerintah, gerakan mahasiswa ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Serbia yang sebagian besar sudah muak dengan politisi konvensional. Rencananya, aksi protes lanjutan akan digelar pada 27 Januari di ibu kota Serbia, Belgrade.