GEREJA ANGLIKAN PIMPINAN WANITA PERTAMA: BABAK BARU SEJARAH! - Berita Dunia
← Kembali

GEREJA ANGLIKAN PIMPINAN WANITA PERTAMA: BABAK BARU SEJARAH!

Foto Berita

Sejarah baru terukir bagi Gereja Anglikan global. Sarah Mullally, seorang mantan perawat yang kini menjabat sebagai Uskup Agung Canterbury, resmi dilantik dalam sebuah upacara megah di Katedral Canterbury pada Rabu lalu. Pelantikan ini menandai dimulainya pelayanan publiknya sebagai wanita pertama yang memimpin Gereja Inggris, sebuah momen yang disebut-sebut sebagai 'perubahan besar' dalam institusi berusia berabad-abad ini.

Acara pelantikan berlangsung khidmat di kursi St. Agustinus yang bersejarah, disaksikan oleh sekitar 2.000 tamu penting. Beberapa di antaranya adalah Pangeran William dan istrinya Catherine, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, serta berbagai pemimpin agama. Meskipun secara hukum Mullally sudah mengemban peran ini sejak Januari, upacara pada hari Rabu adalah penanda simbolis dimulainya babak baru kepemimpinannya.

Sebagai Uskup Agung Canterbury, Mullally akan bertindak sebagai pemimpin spiritual Komuni Anglikan global, yang memiliki sekitar 85 juta anggota di seluruh dunia. Penunjukan seorang wanita untuk posisi setinggi ini menjadi bukti evolusi progresif dalam gereja, mengingat Gereja Inggris baru menahbiskan pendeta wanita pertamanya pada tahun 1994 dan uskup wanita pertamanya pada tahun 2015. Ini menunjukkan bahwa tradisi yang kuat pun bisa beradaptasi dengan nilai-nilai kesetaraan modern.

Dalam khotbah perdananya, dengan memakai mitra emas (topi khas uskup), Mullally berdoa untuk 'perdamaian yang menang' di berbagai wilayah dunia yang dilanda konflik, termasuk Timur Tengah, Ukraina, Sudan, dan Myanmar. Ia juga secara terbuka mengakui penderitaan yang disebabkan oleh kegagalan perlindungan anak di masa lalu dalam gereja, salah satunya bahkan menyebabkan pendahulunya, Justin Welby, mengundurkan diri pada 2024. Mullally menekankan perlunya 'tetap berkomitmen pada kebenaran, kasih sayang, keadilan, dan tindakan', sebuah pernyataan yang menunjukkan kesadaran mendalam akan tantangan internal yang harus dihadapi.

Pelantikan ini juga dihiasi berbagai simbol menarik. Mullally mengetuk pintu barat katedral mengenakan jubah yang diikat oleh gesper model ikat pinggang yang ia kenakan saat masih menjadi perawat di National Health Service (NHS). Ia juga memakai cincin yang diberikan Paus Paulus VI kepada salah satu pendahulunya pada tahun 1966, sebuah simbol membaiknya hubungan antara Anglikan dan Katolik, berabad-abad setelah Raja Henry VIII memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma. Ini adalah sinyal bahwa di tengah modernisasi internal, hubungan antar denominasi juga terus diupayakan.

Meskipun penunjukan Mullally pada Oktober lalu sempat menuai kritik tajam dari kelompok konservatif Global Anglican Future Conference (GAFCON), yang sebagian besar terdiri dari gereja-gereja di Afrika dan Asia yang menentang kepemimpinan wanita dan pemberkatan sesama jenis, kelompok ini akhirnya membatalkan rencana awal untuk menunjuk pemimpin tandingan. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk membentuk dewan baru. Keputusan ini menunjukkan adanya dinamika dan ketegangan internal, namun pada akhirnya pragmatisme lebih mendominasi, menghindari perpecahan yang lebih besar. Dengan demikian, kepemimpinan Mullally bukan hanya soal perubahan gender, tetapi juga tentang bagaimana sebuah institusi kuno menavigasi modernitas, tantangan internal, dan posisinya di panggung global.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook