Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov melakukan kunjungan mendadak ke Tehran, Senin (waktu setempat), untuk bertemu dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi. Ini menjadi kunjungan pertamanya ke Iran sejak Februari 2025, di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pertemuan tersebut, Araghchi menyebut diskusi mencakup perkembangan kawasan, perang AS-Israel terhadap Iran, isu Ukraina, hingga negosiasi Iran-Amerika. Ia juga menuding ekspansi Israel sebagai pemicu ketegangan, dan menegaskan bahwa ketidakamanan di Teluk serta Selat Hormuz adalah akibat agresi Israel-Amerika.
Sementara itu, Lavrov menegaskan komitmen Rusia terhadap perjanjian kemitraan strategis 20 tahun dengan Iran yang resmi berlaku 2 Oktober 2026. Ia dijadwalkan bertemu Presiden Masoud Pezeshkian pada hari yang sama. Kunjungan ini disebut Moskow sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang memanas sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebelum ke Tehran, Lavrov singgah di Bahrain untuk menghadiri dialog strategis Rusia-GCC (Dewan Kerja Sama Teluk). Dalam forum itu, negara-negara GCC mendesak Moskow menggunakan pengaruhnya terhadap Tehran untuk mendorong dialog serius dan memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terganggu akibat serangan terhadap kapal komersial.
Kepala GCC Jasem Al-Budaiwi mengungkapkan bahwa negara anggotanya telah menghadapi lebih dari 7.000 rudal dan drone Iran sejak perang dimulai. Dalam pernyataan penutup, enam negara Arab itu meminta agar program nuklir dan rudal Iran, serta dukungannya terhadap kelompok bersenjata regional, ikut dibahas dalam perundingan damai ke depan.
Analis Iran-Rusia Nikita Smagin menilai kunjungan Lavrov mencerminkan upaya Moskow menjaga hubungan kerja dengan semua negara kawasan, sekaligus mempertahankan posisinya sebagai mediator meski reputasi globalnya terganggu akibat perang Ukraina. Menurutnya, timing kunjungan ke monarki Teluk dan Iran yang hampir bersamaan adalah sinyal sengaja bahwa Moskow ingin menunjukkan pendekatan setara terhadap semua negara.
Di Manama, Lavrov menyampaikan bahwa kawasan kembali berada di ambang perang skala penuh dan Rusia ingin membangun arsitektur keamanan kolektif regional. Ia menyebut ini bisa menggabungkan inisiatif negara kawasan dengan usulan Rusia dan China, demi memulihkan lalu lintas maritim dan mewujudkan perdamaian abadi.
Analisis dampak: Bagi masyarakat global, terutama di kawasan Teluk, gangguan Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga minyak dan biaya logistik yang berimbas pada inflasi. Warga Iran sendiri menghadapi tekanan ekonomi dan keamanan berkepanjangan. Sementara itu, masuknya Rusia sebagai mediator bisa mempercepat atau justru memperumit perundingan, tergantung seberapa besar pengaruh Moskow terhadap Tehran. Yang jelas, stabilitas Selat Hormuz kini menjadi taruhan bagi ekonomi banyak negara.