Jakarta, 20 Juni 2025 - PBB mencatat lonjakan fenomenal jumlah pengungsi yang pulang ke kampung halaman pada tahun 2025. Hampir 15 juta orang, atau naik tiga kali lipat dari tahun sebelumnya, memutuskan untuk kembali meski kondisi di negara asal masih jauh dari kata aman.
Data UNHCR menunjukkan, dari total 117,8 juta orang yang masih mengungsi di seluruh dunia, baru 12 persen yang berhasil pulang. Sebagian besar dari mereka adalah pengungsi internal (IDP) yang kembali ke daerahnya sendiri, mencapai 10,3 juta jiwa. Sementara itu, 4,36 juta pengungsi lintas negara memilih pulang, dengan 98 persen di antaranya hanya berasal dari lima negara: Afghanistan, Suriah, Venezuela, Ukraina, dan Myanmar.
"Pulang itu indah secara perasaan, tapi sangat melelahkan secara fisik, emosional, finansial, dan mental. Semuanya sudah berubah," kata Hiam (37), seorang pengungsi Suriah yang kembali ke negaranya setelah rezim al-Assad tumbang pada 2024.
Analisis Dampak: Lonjakan ini bukan sepenuhnya kabar baik. Banyak pengungsi, seperti warga Afghanistan yang dipulangkan paksa dari Iran dan Pakistan, kembali tanpa persiapan. Mereka menghadapi risiko kekerasan, kelaparan, dan minimnya infrastruktur. Pakar migrasi menyebut fenomena ini sebagai 'kepulangan putus asa' yang justru bisa memicu krisis kemanusiaan baru di negara tujuan. Indonesia sebagai negara yang kerap menjadi transit pengungsi perlu waspada terhadap potensi gelombang baru jika kondisi di negara asal memburuk lagi.